|
Kumala Bumi Partiga “Cut Nyak Dinnya “ Bima |
|
|
|
|
Wednesday, 14 July 2010 |
|
Oleh : Alan's
Dialah satu-satunya sultan perempaun(Sultanah) dalam sejarah kesultanan
Bima. Wanita ini bernama Kumala. Sebelum diangkat menjadi sultan
bergelar Bumi Partiga yaitu sebuah jabatan di Istana Bima yang memiliki
tugas sebagai pejabat yang mengajarkan Tata Krama yang harus dilakukan
oleh setiap putera dan puteri sultan Bima. Kumala merupakan tokoh
wanita Bima pada abad XVIII yang memiliki komitmen kuat dalam
mempertahankan kedudukan Bima sebagai kesultanan yang dihormati kawan
dan ditakuti lawan.
Kumala memulai debut karir politiknya ketika menjadi istri sultan Abdul
Kudus Makassar. Dari pernikahan itu Kumala mempunyai seorang putera
yang bernama Usman yang nama makassarnya dikenal dengan “ Amas Madina “
yang kemudian naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun
1753. Tregedi kematian Abdul Kudus ini semakin mengobarkan semangat
Kumala untuk berjuang melawan Belanda di Makassar terutama di Bima.
Kebencian Belanda kepada Kumala berawal ketika dia mengangkat puteranya
Amas Madina sebagai sultan Makassar dalam usia 6 tahun pada tanggal 21
Desember 1753.
| Views: 94 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 14 July 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Warisan Itu Telah Kembali |
|
|
|
|
Thursday, 06 May 2010 |
|
Oleh : Alan's
 Sejarah mencatat bahwa Bima memiliki Aksara yang pernah dipakai oleh
masyarakat Bima ratusan tahun yang lalu. Hal ini tentunya merupakan
sebuah kelalaian sejarah karena warisan yang berharga itu sempat hilang
dan sebagian ada di negeri Belanda. Namun berkat kegigihan Hj. Siti
Maryam Rachmat M. Salahuddin (Puteri dari Sultan Muhammad Salahuddin
Bima), naskah Aksara Bima itu kembali ditemukan.
Menurut Ina Ka’u Mari (panggilan Akrabnya), pada
sekitar tahun 1987
beliau menemukan satu naskah di Perpustakaan Museum Nasional RI di
Jakarta dalam bentuk selembar dokumen yang merupakan hasil dari laporan
perjalanan seorang peneliti Belanda yang bernama Zolinger. Peneliti
Belanda itu memang pernah melakukan perjalanan ke Bima dan Sumbawa pada
bulan Mei hingga Desember 1847. Dokumen tersebut berjudul Bahasa Bima
Yang Telah Hilang. Aksara Bima juga ditulis dalam Buku RAFFLES yang
berjudul THE HISTORY OF JAVA(1878). Lalu pada tahun 1990 hingga 1991,
seorang guru besar dari Universitas Leiden Belanda yang juga seorang
ahli bahasa dan aksara Bugis bernama J.Noorduyn datang ke Mataram dengan
tujuan khusus bertemu dengan Ina Ka’u Mari untuk memperlihatkan dokumen
foto kopi dokumen yang kala itu tertulis di atas lontar yang tersimpan
rapi di Leiden.
| Views: 410 | Print |
|
Last Updated ( Thursday, 06 May 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
RIMPU MBOJO YANG NYARIS KEHILANGAN MAKNA |
|
|
|
|
Wednesday, 14 April 2010 |
|
Oleh : Yayi Sundari
 Bima merupakan salah satu Kerajaan islam tersohor di Indonesia bagian
Timur. Kesohorannya hingga pernah berstatus swapraja selama kurun waktu
5-6 tahun dan hingga kini masih didapati bukti dan peninggalannya.
Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya.
Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya
rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan
makna.
Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada
masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima. Rimpu
mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal
1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.
Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten
bermotokan Maja Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke Bima
terutama wanita Arab menjadi ispirasi kuat bagi wanita Bima untuk
mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.
| Views: 657 | Print |
|
Read more...
|
|
|
Wednesday, 31 March 2010 |
Oleh : Umar Ali MS
Menyambut hadirnya Pemilukada beberapa Kabupaten dan Kota Nusa Tenggara Barat ( NTB ), kita berharap terjadi perkembangan positif menuju perbaikan bagi seluruh masyarakat. Munculnya kandidat pemimpin yang bertarung di pilkada Mei dan Juli nanti menjadi kabar gembira, karena masyarakat berharap siapapun terpilih dituntut memberi banyak perbaikan.
Sebagai harapan masa depan, Pilkada dianggap penting oleh masyarakat. Karena itu, sikap dan tindakan kandidat pemimpin menjadi kriteria dalam penilaian. Apakah dia pantas kita pilih sebagai pimpinan masyarakat, yang sebelumnya banyak masyarakat dikhianati dan tertipu oleh lips service kampanye. Dinamika politik jelang pilkada juga sering melanggar etika politik, mencabut respek social, dan menanggalkan prinsip humanisme. Kondisi yang dipenuhi ambisi kepentingan parsial dan sempit dari pada menemukan pemecahan masalah.
Distorsi ini semakin kental dan mengeras ketika para kandidat memobilisasi isu-isu yang saling menjatuhkan sehingga adegan didepan masyarakat adalah eskalasi politik degil yang memperlihatkan gaya konflik ngotot, keras kepala, menghakimi ( judgement ) dan politik uang. Sebuah sikap yang belum tersentuh kearifan politik yang tidak memberi pelajaran politik masyarakat. Hak Politik dan demokrasi rakyat local diarahkan pada pendekatan konsertrasi uang.
| Views: 667 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 31 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Mengenal Komunitas BABUJU Dari Dekat |
|
|
|
|
Wednesday, 24 March 2010 |
|
Kelurahan Sadia kecamatan Mpunda Kota Bima kini sedang berkembang
seiring waktu berjalan. Hiruk pikuk kendaraan lalu lalang meliwati jln Gatot
Soebroto – Sadia, Kota Bima. Jalur ini tak kalah ramai karena mahasiswa yang
kuliah di STKIP Bima, STISIP Mbojo serta STIKES Mataram saban hari melaluinya.
Komunitas BABUJU juga berada dijalur ini. Tepatnya berhadapan dengan Bengkel
‘Nasib’ Sadia I Kel Sadia. Aktifitas mahasiswa di Komunitas BABUJU pun tak
kalah ramai. Berikut sekelumit catatannya.
Tidak ada yang istimewa
dengan lingkungan Sadia I, namun bagi para aktifis sosial maupun para
mahasiswa, ada yang lebih dari lingkungan itu. Dikelurahan ini ada sekelompok
pemuda dari berbagai kalangan yang berkontemplasi dengan referensi (buku). Ya,
itulah komunitas BABUJU, penggiat kajian kontemporer dan analisah data.
Ditempat ini (BABUJU), berdiri rumah batu sederhana menghadap ke barat,
diterasnya tertancap kokoh sarangge
(serambi bambu) sebagai tempat yang nyaman untuk diduduki. Tembok utara teras
nampak buku-buku yang tertata rapi. Ada Whiteboard
berukuran satu kali satu setengah meter bersandar didinding tembok
| Views: 590 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 24 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 51 |