
BUNYI mesin ketam meraung-raung disertai suara percikan ombak pasang-surut, mendominasi pesisir Dusun Lamere, Desa Buncu, Kecamatan Sape, Bima (Pulau Sumbawa), NTB. Tanggal 2 Desember 1999 siang, Uba Idris dan M Ali, tengah melicinkan kayu bahan pembuat kapal, yang dalam proses penyelesaian. Kapal berbobot 400 ton, panjang 17 meter dan lebar 9,4 meter itu milik H Dawira, seorang pengusaha ekspedisi dusun itu.
Kapal dikerjakannya Oktober 1998, menghabiskan 300 meter kubik kayu; terdiri dari kayu ulin, kayu besi dan kayu sambi. Kapal diperkirakan jadi Maret 2000, kemudian bakal dipasangi mesin 300 PK.
Tak jauh dari mereka, terlihat Aco Daeng Mappi (30), mengayun kapak guna membelah kayu pada bagian dinding haluan kapal. Kapal berbobot mati 2,5 ton itu, pesanan Abdurrahman, nelayan asal Desa Tanjungluar, Lombok Timur, yang bakal dipakai menangkap hiu.
"Biaya total membangun kapal siap melaut, ditambah mesin 30 PK sebesar Rp 25 juta," tutur Aco tentang kapal yang menghabiskan kayu enam meter kubik itu.
Dusun Lamere berjarak lima kilometer dari Desa Sape, 60 km selatan Raba, ibu kota Bima. Lewat jalan "keriting" penuh kerikil dan berdebu, belum banyak yang mengetahui kalau warga dusun itu mahir membuat kapal kayu tradisional. Bandingkan misalnya warga Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang andal membuat kapal dan memang akrab dengan dunia bahari. Padahal Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) NTB menyebut ada empat desa di Kabupaten Bima yang kini menekuni pembuatan kapal kayu.
Mereka ini adalah keturunan Bugis yang dalam sejarahnya mengembara dan menetap di daerah pesisir Bima. Di tempatnya yang baru, mereka melanjutkan tradisi pendahulunya, membuat kapal sebagai mata pencarian.
| Views: 1699 |