|
Kapenti ma Ponta, Kasimpa ma Sampu |
|
|
|
|
Friday, 15 February 2008 |
|
Oleh : Rangga
(Ketua Umum Tambora Study Club - Makassar)
Tulisan ini terilhami dari tulisan serta gagasan teman-teman dilink UM (www.sumbawanews.com), diskusi ringan bersama kawan-kawan TSC (Tambora Study Club) Makassar, serta dari realitas yang sedang bercengkarama bersama Dana Mbojo tercinta. Permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Kanda Zain, sebab melalui beliau lah judul diatas muncul. Walaupun secara semantik pemahaman dalam mengartikan judul diatas antara Kanda Zain dengan saya mungkin agak berbeda.
Dengan segala hormat, judul diatas terinspirasi dari realitas sosial di daerah kita tercinta (Dana Mbojo). Hal ini terjadi menjelang Pilkada Kota Bima, relokasi pusat pemerintahan Kab Bima serta
menjelang PILGUB NTB. Serta seabrek dinamika sosial lainnya yang angat mendukung polarisasi birokrasi yang terkesan 'Kapenti Ma Ponta, Kasimpa Ma Sampu'. Saya mencoba menjabarkan judul tersebut melalui kajian dan investigasi mendalam baru-baru ini.
| Views: 12948 | Print |
|
Last Updated ( Friday, 15 February 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Monday, 11 February 2008 |
|
Oleh : Nurjanah Bakti
Kelompok Lauk Pauk
Letak Bima yang secara geografis berada di pesisir pantai mempengaruhi selera makan orang Bima. Kebanyakan makanan Bima terdiri dari ikan dan hasil laut lainnya. Orang Bima bilang kalau belum makan pakai ikan rasanya belum makan. Orang Bima tidak mengenal kata lauk pauk, kalau daerah lain ‘ makan pakai apa?’ maksudnya lauknya apa? orang Bima akan bertanya lansung ‘Ngaha kai uta au?’ yang artinya ‘makan pakai ikan apa?’ jawabanya bisa saja ‘ngaha kai uta janga’ yang arti secara harafiahnya ‘makan pakai ikan ayam’ atau ‘ngaha kai uta mbe’e’ yang artinya ‘makan pakai ikan kambing’ kata ikan biasanya menempel pada nama lauk pauk lainnya.
Walaupun orang Bima menggemari ikan laut, bukan berarti di Bima tidak mengenal makanan selain ikan. Daging kambing adalah makanan favorit setelah ikan disusul daging rusa atau menjangan, daging sapi, kerbau dan kelopmok unggas serta terakhir daging kuda.
Kelompok Sayuran
Daun dan buah kelor adalah sayuran yang paling poluler di Bima, bisa dibilang selama pohon kelor melambai orang Bima tidak akan kelaparan. Pohon kelor juga adalah pohon yang bersahabat, semakin dipetik daunnya semakit lebat tumbuhnya. Selain daun dan buah kelor sayuran khas Bima ada juga ‘sandanawa’ yang sampai saat ini saya belum tau nama Indonesianya. Dalam bahasa Bima sayur disebut ‘tambeca’ , mungkin singkatan dari ‘uta mbeca’ yang artinya ‘ikan basah’. Dalam kuliner Bima memang tidak banyak dikenal sayuran yang ditumis, sayur itu selalu identik dengan makanan yang berkuah.
Kelompok Pelengkap atau Sambal
Ini paling penting, disebut demikian karena banyak sekali ragam jenis sambal, baik sambal mentah maupun matang. Enak atau tidaknya suatu santapan tergantung makanan pelengakap ini. Tidak semua sambal cocok untuk segala jenis makanan, semua ada peruntukannya masing-masing.
Kelompok Penganan/Makanan Kecil
Jenis penganan Bima banyak dipengaruhi oleh citarasa melayu, manis bersantan. Dan Melayu banyak dipengaruhi Timur Tengah, tidak heran ada beberapa penganan Bima yang punya citrasa Timur Tengah.
Anda dapat melihat dan mencoba beberapa resep masakan khas Bima disini.
| Views: 13947 | Print |
|
Last Updated ( Monday, 18 February 2008 )
|
|
|
Banggaku menjadi orang Bima |
|
|
|
|
Wednesday, 02 May 2007 |
|
Bima memang sebuah kota terpencil yang hanya bisa dicapai lewat jalan berkelok-kelok, menembus hutan menyebrangi lautan, menaiki bukit dan gunung melewati jurang terjal. Kondisi daerahnyapun panas dan berdebu. Tata kotanya jauh dari kesan kerapian. Rakyatnya dikenal berwatak keras, tidak gampang berkompromi dan suka bicara apa adanya. Tidak ada tempat wisata yang membanggaakan di kota ini, bukan karena tidak indahnya landscape dan panoramanya, tetapi karena masih kurangnya tangan2 trampil yang mau menyulap kota ini menjadi sebuah kota impian. Tidak! Itu semua tidak pernah menyurutkan perasaan banggaku menjadi orang Bima. Dou Mbojo Sejati! Di balik itu semua, Bima menyimpan kearifan lokal yang jarang dipunyai oleh daerah lain.
| Views: 24675 | Print |
|
Last Updated ( Tuesday, 12 June 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
Wednesday, 02 May 2007 |
|
Aku terlahir disebuah kampung kecil di pedalaman dana mbojo. kedua orang tuaku cuma petani tumpangan yang tiap musim menyewa tanah orang untuk diolah. bapakku sudah sakit-sakitan sejak aku duduk dikelas 3 sekolah dasar (SD). Dan dalam keadaan yang demikian itu ibu menjadi tulang punggung keluarga disamping bibi yang sesekali membantu kebutuhan keluarga kami. Aku anak pertama dari enam bersaudara dan atomatis harus ikut bertanggung jawab terhadap keluarga kami. Sejak sd kelas tiga aku udah harus kerja membantu ibu dan hampir aku tak pernah merasakan indahnya masa kecil seperti anak-anak lain yang sebaya denganku. Ketika tamat SD, keluargaku benar-benar berantakan, harta, tanah, kerbau, kambing, rumah dan semua barang-barang berharga milik keluarga kami sudah habis berantakan. Aku tidak tahu dengan jelas kenapa orang tuaku sampai menjual semua barang mereka namun satu yang aku ingat, bapakku terjebak dalam kecurangan dan keserakahan para rentenir.
| Views: 20386 | Print |
|
Last Updated ( Tuesday, 12 June 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
Wednesday, 02 May 2007 |
Haruskah Rimpu? Paling tidak ada beberapa alasan mendasar bagi keharusan terjaganya rimpu dari pengikisan budaya oleh kecenderungan globalisasi, modernisasi, dan sekularisasi yaitu, alasan teologis, sosiologis, dan teoritis. Walaupun dapat dipilah, ketiga alasan itu tentu berkaitan dan tidak terpisahkan dan terutama bersumber dari alasan teologis. | Views: 25655 | Print |
|
Last Updated ( Tuesday, 12 June 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
| Results 37 - 45 of 45 |