Home
"*****"

Sikap Partisipatif Masyarakat Bagi Pengembangan Potensi Pariwisata Daerah Bima PDF Print E-mail
Friday, 22 June 2007

Oleh : Fadlin 

Pengembangan pariwisata seba­gai pilihan bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di daerah bima merupakan hal yang cukup menarik, berpeluang dan juga realistis untuk ditawarkan, mengingat potensi pariwisata yang ada di daerah bima sangat cukup banyak untuk di berdayakan apalagi di dukung dengan letak geografis daerah bima yang sangat strategis dimana merupakan jalur persinggahan dari rute pariwisata nasional (Indonesia barat – Indonesia timur) dari Jawa-Bali-Lombok menuju NTT.  

Sebagai suatu kesatuan dalam sistem industri, pariwisata juga dinilai dapat memberikan peluang kepada banyak orang untuk berpartisipasi. Selain itu juga pariwisata berhubungan dengan pelestarian obyek karena obyek merupakan komponen utamanya. Dalam perjalanannya, pengembangan potensi - potensi pariwisata di daerah bima sengat kental dan berhubungan erat dengan masalah yang berkaitan dengan perilaku masyarakat, yaitu perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip pelestarian alam, walaupun memang tidak semuanya begitu, namun sebagian besar memiliki perilaku merusak alam, mungkin alasanya sangat klasik sekali yaitu minimnya SDM masyarakat bima dan karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat bima dari bercocok tanam sehingga tampa sadar perilaku yang seperti itu dilakukan.

Sekilas flash back ke masa lalu saya, dimana pada saat itu saya sering melihat-lihat pemendangan terutama daerah disepanjang jalan (Ncai Kapenta) yang mana pohon-pohonya sangat rimbun dan sejuknya sangat terasa, dalam hati saya berkata bima ku sorgaku, tapi setelah beberapa tahun ini saya kembali melewati jalan tersebut, bukan main kagetnya saya melihat pemandangan yang tandus di tambah lagi sengatan matahari ibarat jarum menusuk kulit, sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan. Pembaca yang budiman bisa menyaksikan sendiri di salah satu tempat wisata yang di kenal dengan “karombo wera” dimana hampir seisi gua sudah menjadi papan reklame bagaimana tidak disitu banyak terpampang tulisan-tulisan dari cat maupun air brush bahkan ada yang memahat dinding gua mungkin alasanya agar nama, ungkapan, motto bahkan puisi bisa diketahui orang banyak, sungguh ironis dan menyedihkan bukan.  

Mereka (pelaku) tidak paham kalau proses alam untuk membentuk gua tersebut butuh waktu jutaan – puluhan juta tahun, tonjolan kecil saja yang ada di dinding gua yang mereka ratakan hanya untuk memahat nama mereka tersebut membutuhkan waktu ratusan tahun untuk prosesnya, lagi-lagi alasanya karena ketidaktahuan. Di pantai ule di sebelah utara kota bima dulu kalau mancing ikan bisa membawa pulang 15 – 20 ekor ikan, tapi sekarang mungkin paling maksimal dapatnya 2 ekor, itu karena penduduk di sekitar daerah itu melakukan cara penangkapan dengan cara yang salah yaitu di bom dan di potas, sehingga ikan ikan kecil ikut mati padahal belum pantas untuk di konsumsi, karang-karang tempat ikan berteduh bahkan bisa dijadikan wisata bahari dan juga bisa sebagai abration protect kini semua rusak karena bom ikan, sehingga efek yang terterjadi adalah abrasi pantai, pantai jadi semakin sempit dan tidak menarik. Lagi-lagi alasanya karena minimnya SDM masyarakat bima, sesungguhnya masih banyak lagi kasus-kasus mengenai prilaku yang merusak dari sebagian masyarakat bima yang nota benenya dilakukan karena ketidaktahuan.Kondisi masyarakat yang unpartisipatif inilah yang menjadi masalah  di daerah bima, sungguh sangat ironis sekali apabila masyarakat bima sendiri tidak respect akan nasib alam bimanya sendiri.

Jalan keluar satu-satunya pemerintah harus bisa merubah perilaku tersebut mejadi perilaku yang partisipatif dengan cara memberikan pengertian dan pengarahan yang baik dari pemerintah daerah bima. Industri pariwisata juga dapat menjadi jaminan bagi masyarakat lokal dalam kaitanya dengan peluang kerja maupun peluang usaha untuk peningkatan taraf ekonomi. Pengertian partisipasi yang memuat unsur peran serta, kontribusi dan tanggung jawab dari masyarakat akan menjadi faktor penentu dalam kegiatan pariwisata. Dengan partisipasi masyarakat dapat mengakses simpul-simpul penting ekonomi pariwisata. Dengan partisipasi pula masyarakat akan menjadi pemeran utamanya. Sudah sepatut­nya pariwisata kabupaten bima sepenuhnya “di­mainkan” oleh rakyat, karena unsur-unsur yang ada di dalamnya seperti hotel, restoran, trans­portasi, cinderamata dan sebagainya selalu terkait dan bahkan memiliki ketergantungan pada produk dan jasa ekonomi rakyat. Sehingga dengan kondisi perilaku partisipatif dapat diharapkan muncul dalam diri masyrakat (penduduk) daerah bima karena dalam banyak kasus, perilaku yang unpartisipatif dan partisipatif dari masyarakat (penduduk) merupakan faktor kunci sukses dan tidaknya pengembangan potensi suatu daerah. Yang terpenting adalah penyajian informasi yang cukup, menarik dan mudah dipahami tentang semua daya tarik yang di tawarkan.

Daya tarik alam didampingi informasi mengenai topografi, klimatologi, sosial budaya masyarakat dll. akan sangat penting artinya terutama bagi wisatawan mancanegara guna membantu wisatawan mema­hami obyek yang dikunjungi. Dalam upaya mewujudkan bima sebagai tujuan wisata, perlu dikembangkan upaya-upaya pemberdayaan seluruh potensi yang ada untuk ditampilkan sebagai atraksi wisata. Untuk itu perlu dilakukan eksplorasi kreatif guna mengenali potensi lain yang terpendam, karena sangat banyak sekali potensi pariwisata yang masih terpendam yang belum diberdayakan sama sekali. Upaya ini dimak­sudkan agar dapat memperkaya khasanah daya tarik wisata. Tingkat keanekaragaman daya tarik akan sangat penting artinya bagi kelangsungan industri pariwisata di daerah bima. Semakin banyak jenis daya tarik yang ditawarkan akan semakin banyak pangsa yang akan dirambah dan akan lebih punya peluang “memaksa” wisatawan untuk tinggal lebih lama dan bukan hanya persinggahan.   


Views: 69140 | Print

  Comments (4)
RSS comments
1. Written by Sarwan, on 10-07-2007 04:39
Om Fadlin.... 
mungkin om Fadlin punya data-data tempat Pariwisata di Bima, biar bisa kita promosikan lewat Bimacenter.com ini. Mungkin dengan cara ini setidaknya kita bisa ikut berpartisipasi untuk mempromosikan Pariwisata yang ada di Bima.
2. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 16-07-2007 10:12
iya om sarwan, ada foto daerah yang bisa di jadikan daerahnya ada di sape, itu hasil hunting anak2 mapala jogja, cuma saya kesulitan apload ke bimacenter.,tolong di kasih tau triknya
3. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 16-07-2007 10:16
refisi : daerah yang bisa dijadikan..... wisata bahari (tambahanya) :)))
4. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 20-05-2008 15:09
santabe ake mada wara nee masukan berdasarkan mada bade mdh-mdhn benar adanya; 
dalam melakukan perencanaan pembangunan pariwisata dan semua jenis dan aspek pariwisata lainnya termasuk perencanaan lainnya dalam pembangunan, memang sangat perlu dukungan masyarakat karena aset pendukung perlu kelangsungan dalam waktu yang lama. selain itu yang perlu dan penting dalam pembangunan pariwisata ada 5 aspek yang harus diperhatikan yang 4 diantaranya seperti ini; aksesibilitas, akomodasi, asosiasi, dan abstraksi. apabila aspek tersebut sudah dapat dipenuhi, maka apa yang tidak bisa???!!!!!!!

Write Comment
Name:
E-mail
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



MathGuard security question, please solve:
 
9RF         E59      
G R    B    3     M1D
TNI   TD1   JUG      
T F    I    5 T   7MQ
X26         4IE

powered by AkoComment Tweaked

Last Updated ( Friday, 15 February 2008 )
 
Maja Labo Dahu | Nggahi Rawi Pahu