Home
"*****"

Dou Mbojo atau Dou Bima kah kita ? PDF Print E-mail
Friday, 20 June 2008
DOU MBOJO ATAU DOU BIMA KAH KITA?
(Menjawab tulisan : Asal Usul Masyarakat Bima)
Oleh : R a n g g a

(Ketua Umum TSC – Makassar)
-------------------------------------------------------------------------------- 

 

RimpuKefatalan generasi adalah ketika sejarah ditoreh secara tidak gamblang dan disadur dengan tidak apa adanya. Lebih ironi lagi ketika sejarah tersebut diungkap secara tidak transparan dan ditutup-tutupi keberadaannya. Dana Mbojo memiliki sejarah yang panjang, dikenal sejak jaman Naka hingga jaman Modern saat ini. Namun banyak catatan naskan kuno Dana Mbojo yang terbengkalai dimana-mana. Ada yang ditemukan di Belanda, di Makassar, di Reo serta ada pula yang ditemukan di Singapura dan Afrika. Dari naskah kuno serta artifak sejarah yang ditemukan, dilakukanlah perangkaian catatan sejarah Dana Mbojo dari A sampai Z. namun memang perlu permaklumatan apabila ditengah rangkaian tersebut terjadi miss antara cerita B ke C dan sebagainya. Namun sangat tidak pantas dan merupakan kejahatan turun temurun apabila rangkaian sejarah diendap demi pelanggengan kekuasaan semu.

 

Seperti tulisan kanda Zainuddin tentang Asal Usul Masyarakat Bima pada kolom Artikel dan Opini pada website ini beberapa waktu lalu. Dari beberapa tulisan tersebut menyatakan bahwa ` Dou Mbojo asli adalah Dou Doro (orang pegunungan), sedangkan orang pesisir adalah pendatang'. Pada tulisan tersebut juga menyatakan bahwa Dou Mbojo percaya dengan Ncuhi yang berasal dari makakimbi-makakamba (mistik). Kemudian percaya dengan adanya `Parafu' yang merupakan simbolitas ke-Tuhan-an yang bisa datang melalui Batu, Pohon, Gunung, Laut dan sebagainya. Sehingga muncul lah kepercayaan animisme ditengah Dou Mbojo. Terima kasih kepada kanda Zainuddin, karena melalui tulisan kanda saya terinspirasi untuk menyusun tulisan sederhana dihadapan pembaca ini.
Dari tulisan ini saya mengawali dengan ungkapan `protes' atas beberapa buku sejarah Bima, lebih-lebih terhadap Buku BO' Sangaji Kai yang ditulis oleh Henri Chambert-Loir dan Siti Maryam R. Salahuddin. Sebab buku BO' Sangaji Kai tidak mengungkap sejarah Bima dengan jelas dan atau tidak mengungkap keterkaitan berbagai hubungan Sejarah Dana Mbojo yang lainnya. Saya telah lima kali menamatkan Buku BO' Sangaji Kai hanya untuk mencari catatan tentang Kudeta ataupun peristiwa pahit yang terjadi ditengah kerajaan Bima. Misalnya Kudeta yang dilakukan oleh Jeneli Sape yang hanya diungkapkan melalui pertanyaan oleh Gubernur Belanda di Makassar pada tahun 1792 kepada Sultan Abdul Hamid. Dari pertanyaan tersebut tidak ada jawaban maupun cerita lebih lanjut dalam buku BO' Sangaji Kai maupun Buku-buku sejarah lainnya.

Begitupula dengan cerita La Hila yang selalu diangkat, sedangkan La Mbila tidak pernah diangkat. Padahal mereka berdua adalah adik kakak yang merupakan Mahkota kerajaan. Baru-baru ini ditemukan naskah Kuno yang menyatakan bahwa La Hila melakukan Kudeta atas kekuasaan Kakaknya, La Mbila. Kemudian La Mbila hilang begitu saja dalam beberapa catatan sejarah Bima. Dalam Buku BO' Sangaji Kai, La Mbila disebutkan ada 2 yaitu Rumata Makapiri Solo dan Rato Bumi Renda Manuru Suntu, tanpa menjelaskan La Mbila tersebut adalah orang atau Gelar.
Kemudian catatan lain adalah tentang penaklukan tanah timur (Solo, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai dan Komodo) oleh Makapiri Solo, anak dari Raja Bicara Rumata Mawa'a Bilmana. Kemudian sejarah lanjutan atas penaklukan Reo 21 tahun (1762 – 1792) yang merupakan cikal bakal adanya ASI POTA Mbojo dan Takapak tangan `Kahampa'. Serta masih banyak catatan sejarah Dana Mbojo lain yang masih menjadi misteri.

Berbicara tentang Tapak Tangan `Kahampa'. Saya menemukan dua versi, yaitu merupakan Tapak pada jaman Batu (Naka) yang dilakukan oleh kerajaan Kalepe Parado dalam rangka menandai kekuasaan wilayahnya. Dan versi yang lain adalah tapak tangan sultan Bima yang menengahi pertumpahan darah antara Bima-Goa-Manggarai pada tahun 1762-1769. kemudian yang menjadi pertanyaan adalah tentang keberadaan kerajaan Kalepe di Parado. Sebab, dalam beberapa literature sejarah di Bima, tidak ada yang menulis tentang keberadaan kerajaan ini maupun asal usulnya. Yang ditemukan hanyalah puing-puing bangunan istana yang luluhlantah.
 
Dari hasil kajian dan eksplorasi singkat saya dengan teman-teman budayawan Bima yang kemudian disenergiskan melalui diskusi ringan dengan sejarawan yang ada di Bima. Bahwa kerajaan Kalepe itu memang ada, yang merupakan kerajaan terbesar di pulau Sumbawa hingga Manggarai. Letak kerajaan Kalepe adalah diwilayah pegunungan Parado yang dibuktikan dengan adanya artifak dan puing-puing reruntuhan Istana kerajaan. Dari beberapa pembuktian yang ada, bahwa kerajaan Kalepe ini ada pada jaman Batu atau Jaman Naka yang merupakan jaman manusia belum mengenal huruf dan tulisan. Kerajaan kalepe inilah yang merupakan kerajaan Dana Mbojo sesungguhnya, sekaligus turun temurun Asli Dou Mbojo. Dari rangkuman cerita yang ada, Kerajaan Kalepe ditaklukan oleh Ncuhi Dara beserta sekutunya. Dari penaklukan ini, rakyat kalepe melarikan diri kearah Timur dan Barat sebab penyerangan dilakukan melalui arah utara. Yang ke barat hingga ke Tambora kemudian mendirikan kerajaan Peka (putih) di Tambora, sedangkan kearah Timur tidak diketahui. Hal ini dapat dibuktikan dengan prasasti peninggalan-peninggalan yang antara lain, wadu pa'a, Karombo (karumbu), Temba Romba, dll.

Sebagian masyarakat Kalepe yang tidak mampu lagi melarikan diri kemudian berhenti di Sambori, karena merasa tidak dikejar lagi maka mereka mendiami Sambori hingga sekarang yang kemudian disebut Donggo Ele. Sedangkan para tawanan perang dalam rangka penaklukan kerajaan Kalepe dibuang ke Donggo yang kemudian berkeluarga dan berketurunan sehingga menjadi Donggo Di' . Ada kemungkinan bahwa Ncuhi yang merupakan kepala suku (bukan dewa yang disebutkan) yang memimpin komunitas masyarakat atau dusun. Yang kemudian melakukan penggalangan kekuatan dalam melakukan pemberontakan kepada kerajaan. Penaklukan kerajaan Kalepe oleh Ncuhi Dara yang merupakan kepala dari lima Ncuhi yang disebut Ncuhi Na'e (Banggapupa, Dorowoni, Parewa, Bolo, Dara). Sedangkan munculnya Ncuhi yang lain seperti Ncuhi Donggo, Ncuhi Kolo serta Ncuhi Parado hadir kemudian. Setelah kerajaan Kalepe dikalahkan. Ncuhi-Ncuhi inilah yang memerintah masyarakat Dana Mbojo. 

Saya mencoba mengaitkan Logat yang ada di Bima melalui wilayah kesukuan Ncuhi diatas sebagai kepala suku-suku yang ada di Bima. Ncuhi Kolo merupakan Ncuhi yang berada di bentangan pegunungan Kolo hingga Wera (sentu wera), Ncuhi Bolo adalah yang mengepalai masyarakat wilayah Bolo kearah Barat (sentu sila), Ncuhi Parewa yang menguasai wilayah sakuru hingga Monta bagian dalam (sentu Monta-Tangga), Ncuhi Dorowani adalah pegunungan Belo hingga pegunungan kearah selatan sebelum Parado (sentu ngali-renda, cenggu-tente), Ncuhi Parado yang menguasai wilayah Parado kearah timur, Ncuhi Banggapupa mengepalai wilayah Lambu ke utara (sentu sape), Ncuhi Dara yang menguasai wilayah Rasanae, serta Ncuhi Donggo yang mengepalai wilayah pegunungan Donggo (sentu donggo). Sehingga saya menyimpulkan bahwa logat yang ada di Bima dibagi dalam delapan logat sesuai dengan kehidupan masing-masing suku yang dikepalai oleh salah seorang Kepala Suku (Ncuhi).

Kehidupan Ncuhi beserta masyarakat yang dipimpinya terjadi sejak jaman Naka atau jaman Batu. Dari nama-nama tersebut, tidak ada satupun Ncuhi yang hidup atau berasal dari pesisir pantai. Semuanya berada dipegunungan atau di Gunung. Termasuk keberadaan kerajaan Kalepe yang merupakan kerajaan asli Dana mbojo. Sedangkan masyarakat pesisir yang mendiami kemudian adalah masyarakat pendatang. Yang sedikit demi sedikit memenuhi pesisir pantai diwilayah teluk Bima dalam rangka berdagang. Jika kita kaitkan dengan Sang Bima yang Nota Bene Menurunkan Raja Bima pertama yaitu Indra Jamrud. Yang terkenal dengan sumpah Danatraha-nya ` Ederu nahu surampa dou labo dana'. Sang Bima kita ketahui bersama hadir di Bima dalam 2 Versi yang berbeda yaitu melalui pulau Satonda dan melalui Nanga Belo (dermaga Bima pertama). Sang Bima, hadir sebagai pendatang yang sedang melakukan perjalanan ke Timur (tidak ada penjelasan perjalanan yang dilakukan apakah untuk memperluas wilayah kekuasaan atau secara kebetulan singgah). Kemudian Sang Bima mengajari para Ncuhi dan masyarakatnya tentang bagaimana mengenal huruf dan menulisnya. Dari sinilah Sang Bima diterima oleh para Ncuhi karena kemampuan membaca huruf dan tulisan. Konon Sang Bima menikah dengan salah satu Fare Pidu (tujuh peri) di Kolo (tanpa Catatan yang jelas). Sang Bima merupakan keturunan masyarakat Majapahit. Hal ini dapat dilihat dari asal kapal yang sang Bima
tumpangi, Fam yang digunakan dalam namanya serta keturunannya yang selalu ke Majapahit dan beberapa diantaranya kemudian menikah dengan keturunan Majapahit. Kemudian muncul gelar Manggampo Jawa yaitu yang membawa baca tulis. Kemudian menjadi cikal bakal agama Hindu. Sehingga terkesan bahwa hadirnya Sang Bima yang katanya merupakan cikal bakal Dou Mbojo sekarang adalah merupakan keturunan Majapahit (Jawa).

Kahadiran Sang Bima jauh setelah adanya Kerajaan Kalepe yang hidup pada jaman Naka yaitu kerajaan Dou Mbojo sebenarnya. Namun sangat disayangkan, bahwa kerajaan ini tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Ada namun diendapkan atau memang tidak ada sama sekali. wallahualam Jadi sebenarnya asal muasal Dou Mbojo adalah Dou Doro (dari pegunungan), bukan pesisir seperti yang di dongengkan selama ini. Namun nampaknya kesan ini dipudarkan melalui celaan, umpatan atau makaian dengan bahasa `nggomike dou doro poda', `sampula bune dou donggo', `pahu dou doro nggomike' dan seterusnya. Wajar jika dengan bahasa itu membuat kita marah karena disamakan dengan Dou Mbojo poda, padahal kita ini sudah merupakan peranakkan dou jawa (orang Jawa). Orang sambori asli dan Donggo Asli, akibat dipandang sebelah mata, mereka mengasingkan diri dalam kehidupannya. Hal ini sama dengan masyarakat asli Mengkasara (Makassar) yang mengasingkan diri di Kajang sebagai suku Kajang di Bulukumba. Masyarakat Bima hari ini kehilangan identitas diri akibat Pembauran keturunan yang terjadi, lebih-lebih ketika Makassar masuk Bima melalui kampung melayu yang dinobatkan sebagai kampung elite Bima atau lebih dikenal sebagai kampung suci karena para Lebe dan Majelis Sara Dana Mbojo dipenuhi oleh orang kampung Melayu. Kampung Melayu di Istimewakan oleh Sultan Bima, yang kemudian di istimewakan lagi dengan adanya perkawinan silang antara Kesultanan Bima dan Kesultanan Goa hingga Sultan Bima yang ke- 6 (enam) memerintah. Dan bahwa dari beberapa literature yang ada, perkawinan silang tersebut berlangsung selama 194 tahun lamanya.

Dari gambaran singkat tersebut diatas. Sebenarnya kita adalah Dou Bima (orang Bima) bukan Dou Mbojo (orang Mbojo). Yang berhak menyandang gelar Dou Mbojo adalah masyarakat Donggo dan Sambori saja. Sebab merekalah aslinya Dou Mbojo selama ini. Sedangkan Dou Bima adalah blesteran dari berbagai asal keturunan (jawa, Makassar, Bugis, Gujarat, Cina, dll). Namun karena Dou Mbojo lah kita "ada". Dan karena Dana Mbojo lah kita diterima ditengah masyarakat. Dana Mbojo telah menempa kita juga menjadi Dou Mbojo. Maka sudah sepantasnya kita berbuat untuk Dana Mbojo. Sudah sewajarnya kita menghormati Dana Mbojo. Bukan untuk merampoknya, bukan untuk menodainya, bukan untuk memalukannya dan lebih-lebih untuk merampasnya. Inilah identitas kita sebagai Dou Bima yang tinggal di Dana Mbojo.

******
Jika kawan-kawan memiliki referensi yang jelas yang berkaitan dengan tulisan diatas, mada doho sangat berharap untuk meng-informasikankannya dan kiranya sudi membaginya dengan kami dalam rangka menemukan identitas Budaya Ndai Mbojo (Bima-Mbojo) sebenarnya. Sebab, jika kita berharap dari Naskah Kuno yang pernah tercatat, banyak yang sudah terbakar bersamaan dengan terbakarnya ASI pada tahun 1938 dan banyak pula yang terbengkalai, disobek maupun tinggal lembaran – lembaran yang tidak jelas. Sehingga kami (TSC-Makassar) berinisiatif melakukan kajian literature serta penelitian lapangan yang kompherensif atas keberadaan sejarah kebudayaan Mbojo. Walaupun kami terkendala dengan masalah Dana, namun kami tetap berusaha keras untuk melanjutkan penelitian yang kami lakukan hingga tuntas. Banyak kenyataan di Dana Mbojo yang merupakan peninggalan jaman Naka maupun pada jaman kerajaan. Namun hanya sebagian yang terungkap asal muasalnya.

Melalui Forum ini, kami harapkan dukungan semangat dari ita doho mawara diluar Dana Mbojo. Sudah beberapa kali kami ke Bima untuk melakukan study otentik atas beberapa peninggalan sejarah Bima yang kami temukan. Dari hasil tersebut kami melakukan eksplorasi lapangan dengan dana yang sangat terbatas, namun dengan semangat demi Dana Mbojo kami melakukannya.
 
Terima kasih.

Views: 15905 | Print

  Comments (10)
RSS comments
1. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 28-06-2008 09:54
saya orang asli MBOJO yang skrang menetap di mataram SD,SMP-SMA dan saya sangat merasa kurang sekali tau tentang daerah sy sendiri karna minimnya pelajaran tentang sejaran budaya Bima di Seklah. sejarah tentang Bima sebenarnya masih banyak yang belum tersirat baik tentang kejadian dana mbojo DLL.
2. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 28-06-2008 09:56
saya orang asli MBOJO yang skrang menetap di mataram SD,SMP-SMA saya di Bima dan saya sangat merasa kurang sekali tau tentang daerah sy sendiri karna minimnya pelajaran tentang sejaran budaya Bima di Seklah. sejarah tentang Bima sebenarnya masih banyak yang belum tersirat baik tentang kejadian dana mbojo DLL.
3. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 01-07-2008 18:51
Kalo saya lain lagi.... 
Putra Kelahiran Flores-NTT, tepatnya di Reo-Manggarai. 
Sampai hari ini masih bingung jika ingin napak tilas asal usul nenek moyang. Karena kami di Reo, Pota dan sekitarnya menggunakan bahasa Bima sebagai bahasa ibu. Tapi tidak memiliki ciri khas budaya. tradisi sehari-hari lebih kental sulawesi+bima. Tolong dong temn-teman di TSC Makasar untuk melakukan penulusuran secara konprehensif tentang asal usul kami di Reo;  
Dou Mbojo atau dou Bima atau dou Reo?
4. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 02-07-2008 10:18
Salut dengan hasil penelitian teman-teman yg mencari/menelusuri sejarah nenek moyang dou mbojo. Memang ... dikalangan masyarakat pesisir bima darah sudar bercampur baur. Saya sendiri adalah ahasil perkawinan flores dan bima. Saya lahir dan besar di Bima. Namun sekarang menetap di Surabaya. Tapi ..saya ada sedikit tanda tanya. Saya punya teman ..seorang pengusaha pengeboran minyak yang "asli dou donggo" namun sekarang berdomisili di Tangerang. setau saya orang donggo rata-rata hitam/gelap kulitnya. namun yg saya lihat...mereka seperti orang turki.. putih..hidung mancung seperti orang arab.  
 
Sekian dari saya...
5. Written by Dhena Anggur website, on 04-07-2008 02:14
hmmm...menarik. Sy sendiri ga tau apa2 ttg sejarah Bima, jadi malu!!! Btw, klo ada orang Bima di Sydney, Melbourne ato Canberra kasih tau ya...kangen nggahi Mbojo lagi..nulis terus bro. lumayan mberikan pcerahan!!!
6. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 09-07-2008 12:00
Hal ini sama dengan masyarakat asli Mengkasara (Makassar) yang mengasingkan diri di Kajang sebagai suku Kajang di Bulukumba. 
saya tertarik dengan pernyataan ini tapi apakah ini merupakan hasil penelitian saudara. sebab saya sebagai orang makassar nda pernah mendapatkan sejarah seperti ini. saya mohon pembuktian dari apa yang rekan-rekan kemukakan karna takut akan terjadi pembiasan sejarah....?
7. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 09-07-2008 12:13
saya sangat sepakat dengan apa yang di katakan reka-rekan bahwa keberadaan suku mbojo yang sebnar nya. tapi saya mengusulkan agar apa yang menjadi hasik penemuan atau pendapat ini harus ada pengakuan dari beberapa pemuka sejarah dan masyrakat yang menjadi obyek observasi. sebab ada juga pendapat bahwa orang di mbojo itu sendiri ada yang mengkosnsumsi syhirih yang merupakan lebiasaan orang melayu pada jaman dulu, sebab rata-rata orang di pegunungan di bima itu sendiri banyak yang mengkonsumsi syhirih(mama) mungkin ini hanya masukan dan gambaran. jangan sampai ada kaitan nya juga dengan kebudayaan kita dengan kebiasaan orang melayu.
8. Written by Kripik puedassssss, on 16-07-2008 15:03
Bodoh..... sok membahas nenek moyang... bisamu cuma menengok masa lalu.... padahal hidup itu melangkah ke depan...PIKIRAN yg benar itu; aku mau melakukan sesuatu, metodenya begini, sekian waktu hasilnya sekian dan targetnya jelas....Anda itu sebetulnya DALAM KEBINGUNGAN BESAR 
 
kalo kebanyakan dou mbojo pola pikirnya seperti anda semua...maka tidak akan ada kemajuan yg mendasar dibima...PERUBAHAN ITU;  
1. MERUBAH POLA PIKIR DOU MBOJO BAHWA STRATA SOSIAL ITU TIDAK TERLETAK APAKAH SEORANG ITU PNS ATAU TIDAK 
2. PEMUDA MBOJO DISEKOLAHKAN IBU/BPKNYA KE MAKASSAR, MALANG, MATARAM DSBnya UJUNGNYA BALIK KAMPUNG BERKOMPETISI NGEJAR PNS...PEMUDA YG BODOH, GAK MANDIRI, MENTAL PENGECUT....(INGAT!!!PEMBERANI BUKAN BERARTI BERANI BERKELAHI SEPERTI KEBANYAKAN MAHASISWA MBOJO YG KULIAH KARENA GENGSI, GENGSI DOU MBOJO YG NOMOR WAHID SEINDONESIA) 
3.DIBIMA BELUM ADA CREATOR IDE APAPUN; BUPATI SEKARANG DIPILIH KARENA KESAKRALAN TURUNAN RAJA BIMA, DIA TIDAK BISA APA2.. 
4. ANGGOTA DPRNYA ORANG2 YG SEKEDAR TERGIUR MENGEJAR IMING2 GAJI DAN TUNJANGAN YG SELAMA INI MELARAT GAK TAU PAKE DASI, GAK TAU NAIK PESAWAT, GAK TAU MANDI YG SEBENARNYA, GURU/MANTAN GURU YG MENJADI GURU KARENA LULUSAN SEKOLAH GURU, LULUSAN S2/S1 DARI PARA PELACUR/PENJUAL TITEL....JADI DPR BIMA ITU ADALAH KUMPULAN WAKIL RAKYAT YG MANA? menjijik,hina, makan duit haram, naudzubillah, ........ngaku wakil rakyat tetapi rakyat tetap hidup apa-adanya  
 
.......ayo....jadi manuasia yg benar....jadi maling yo maling tok ojo dadi maling berkedok Titel,berkedok daasi, berkedok turunan bangsawan, berkedok wakil rakyat..... 
dadi orang baik yo kudu konsisten, ojo nyambi makan duit tunjangan yg gak jelas, ojo nyambi nrima duit pelicin, ojo nyambi mark-up/ngemplang anggaran......
9. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-07-2008 06:13
.....MADA DOU MBOJO KAMPO SUNTU - PARUGA..... 
 
==========================================[/B 
 
[B]Mada sangat bangga sekali dengan tanah kelahiran mada yaitu DANA RO RASA MBOJO, sekarang mada masih merantau di Jakarta. MOTTO ndai Mbojo...\"\"\"...MAJA LABO DAHU ro NGAHA AINA NGOHO...\"\"\"...tidak akan pernah saya lupakan karena itu adalah semboyan bagi orang-orang SUKSES yang hidup di Jakarta.
 
 
 
.....Mari satukan Misi, Visi dan Persepsi kita demi membangun Kota dan Kabupaten Bima..... 
 
 
\"\"\"...KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN DOU MBOJO YANG ADA DI JAKARTA ADALAH MERUPAKAN SUATU KEBANGGAAN YANG BESAR BUAT MASYARAKAT KHUSUSNYA DI KOTA DAN KABUPATEN BIMA...\"\"\" 
 
 
 
 
AdHaR / FraNcOs 
KaMpO SuNTu - PaRuGa 
BiMa - NTB 
 
di - 
JaKaRTa
10. Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 01-11-2008 10:02
Babad Sang Bima* 
Untuk Liga 
 
Dalam sebuah perjalanan pulang bersilaturrahmi dengan chuhi Bolo, ncuhi dorowani menemukan dan memungut seorang bayi yang dibuang oleh entah siapa yang sangat tega membuang anaknya sendiri. Bayi mungil itu oleh sang ncuhi dorowani diberi nama Bima, dibelakang hari orang memanggilnya Indra Jamrud. Bayi ini tumbuh menjadi seorang bocah tengik. Dibawa bimbingan sang ncuhi, bocah tengik ini, sangat susah di atur, disuruh memakai pakainnya saja dia tidak mau. Dia lebih senang bermain telanjang bulat, hidungnya dilumuti lalat bangkai, yang memakan ingusnya yang berseleweran disekitar bibir dan parasnya. 
 
Ncuhi menceritakan berbagai hal kepadanya. Seperti, di kampung Raba sana ada pedangan yang mengunakan kapal untuk berdagang atau sekedar mampir untuk membeli kuda. Bisa dikatakan disana kehidupannya sangat indah dan maju. Mendengar cerita itu, diam-diam dalam hatinya dia ingin pergi kesana untuk sekedar melihat-lihat. Sambil menunggu sang ncuhi lengah dia menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Dalam hatinya dia berguman, “ini akan menjadi perjalananku yang jauh dan panjang” 
 
Bima, atau orang lebih sering memanggilnya sebagai Indra Jamrud tumbuh menjadi pemuda ingusan yang sok gaul dan petualang. Terkadang dia mengajari ncuhi dengan penuh ‘sok tahu’ tentang membaca dan tulis menulis. Dia beralasan, kalau dia mendapatkan ilmu pengetahuan itu dari para Dewa dari tanah entah berantah yang hanya dibisikan pada sang bima seorang. Tiap pagi harinnya Ncuhi melakukan meditasi rutin di luar lembah perkampungan ncake, sudah pasti Bima di ajak untuk ikut serta bersama ncuhi. Bima di ajak bukan untuk bermeditasi, tetapi untuk menunggui kuda sang ncuhi yang lagi bermeditasi “belum waktunya bima melakukan meditasi/pertapaan”. Saat Ncuhi melakukan meditasi, kuda sang ncuhi biasannya di ikat di bawah poho asam yang rindam dekat mulut goa yang merupakan tempat meditasi sang ncuhi. Setelah di ikat, Bima lah yang disuruh untuk menjaga dan mengurus segala keperluan kuda. 
 
Ketika sang Ncuhi lagi bertapa di dalam goa. Diam-diam Bima menggunakan kuda sang ncuhi untuk bepergian kemana-mana (tapi tetap tidak jauh dari mulut goa itu). Dan dia tahu betul kapan harus kembali ke mulut gua untuk mengikat kuda sang ncuhi di tempat semula. Sambil dia memberikan makan dan minum ke kuda, dia memandikannya agar keringat dan busa putih yang keluar di leher kuda, agar tidak ketahuan oleh ncuhi. 
 
Singkat cerita, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Sang bima minggat ke raba... dan tidak balik-balik lagi kerumah ncuhi dorowani... setelah sekian lama bima malah menjadi raja mbojo... dan mengatur para ncuhi yang ada di dana mbojo.... ^_^ 
 
*Terinspirasi dari tulisan Sapardi Djoko Damono dalam: Babad Ken Arok untuk Pram, dan aku coba iseng-iseng menulis ini untuk komentar usaha teman2....  
 
Secara Umum, saya pribadi sangat senang dan sangat mengapresiasi usah yang di lakukan oleh teman-teman TSC makassar. Sebab dengan nilai-nilai sejarah yang benar/kebenaran sejarah (setidaknya bukan dalam versi kekuasaan) kita sebagai generasi muda bisa melakukan dialog personal dan eksistensial dengan nilai-nilai sejarah itu... jadi, ditengah keterbatasn yang ada, teman-teman tetap semangat yach....!!! yang semangat yach.... ^_^ 
 
Sekedar tambahan informasi dan bahan referensi, mungkin 7ada baiknya teman-taman membaca novel sejarah bima/mbojo yang ditulis oleh saudara Liga Alam “Garuda Sang Bima”,  
salam kenal 
 
amrullah

Write Comment
Name:
E-mail
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



MathGuard security question, please solve:
 
75X         YFM      
X M    X    N     TKB
A R   OTR   2Y5      
J I    B      9   FT2
W83         CK9

powered by AkoComment Tweaked

Last Updated ( Friday, 20 June 2008 )
 
Maja Labo Dahu | Nggahi Rawi Pahu