Produk Unggulan
| Madu Alam Bima |
| Sarung Tenun |
| Mutiara Alam |
Pengunjung







![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Kemarin | 220 |
![]() | Minggu ini | 1001 |
![]() | Bulan ini | 6899 |
![]() | Total | 208823 |
Home
Bima Menggugat
Polusi lingkungan akibat Kotoran Kuda di Bima sangat menggangu ...
Bima Menggugat
Polusi lingkungan akibat Kotoran Kuda di Bima sangat menggangu ... "*****"
| Polusi lingkungan akibat Kotoran Kuda di Bima sangat menggangu ... |
|
|
|
| Tuesday, 12 August 2008 | ||||||||
|
Oleh : Dewi Yufriati (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) Ini oleh2 keluhan teman di Jakarta yg baru pulang dr daerah Bima hehe...saya merasa malu sebenarnya yg bikin dia gak nyaman ternyata Maaf, Kotoran Kuda.. Saya sendiri sdh setahun yg lalu jd gak tahu persisi apa benar sdh jadi salah satu penyebab polusi lingkungan/ Udara disana.Teman2 saya blg, udah panas terik, angin bkn kulit itam, debunya campur kotoran kuda..bikin mata pernih dan sesak...(waduhhh ini benar2 keluhan nih??!) Mmg sih, sprti di kampung saya Kec Sila, alat transportasi yg tetap jadi andalan dr jaman saya kecil dulu adalah kuda yg dimodikasi jd benhur...dan mmg seingat saya tanpa dilengkapi penampung kotoran. bs jadi benar bhw jalan2 disana berserakan kotoran kuda ..bertahun2 selalu seperti itu terus!!
Apalagi daerah pasar tempat mangkalnya benhur...debu bercampur kotoran kuda dilokasi pasar...bikin tambah sembrawut saja. Kasus meninggal krn tetanus juga sering loh di Bima...blm nanti indikasi penyakit paru2 dan pernafasan ..semua ini bs jadi akibat dikemudian hari.... ya, ini tambahan masalah..utk di inventaris..polusi kotoran kuda dan solusinya :-) salam, Dewi/ ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh : La Sali Mangari Weru (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) Sebenarnya sih ga salah punya kuda, punya benhur dan menggunakan angkutan benhur dan malah lebih lebih menyukai kalo alat transportasi ini terus dipelihara alias jangan dihilangkan. Namun yang menjadi masalah utama sekarang adalah para borjuis bima yang lagi naik daun alias keren dengan pamer harta melalui kepemilikan kuda pacuan. Mungkin dihati mereka begitu bangga punya kuda pacuan, dimana kalo kudanya meraih juara, maka nama mereka akan diebut banyak orang alias terkenal. Tapi sebaliknya tidak disadari bahwa mereka telah menumbuhkan benih-benih perilaku dan impresi negatif pada kehidupan masyarakat bima. Kalau anda pulang ke bima, anda bisa mengamati bagaimana pacuan kuda itu berlangsung. Katanya kegiatan pacuan kuda sebagai ajang untuk melestarikan budaya, mencinptakan kebersamaan dan persatuan antar warga dari berbagai desa dengan berbagai latar pekerjaan dan pendidikan, juga ingin melestarikan kuda-kuda bima dari kepunahan, disamping itu dengan pembangunan tempat pacuan bima yang menelan biaya miliaran rupiah dan sempat menjadi polemik beberapa tahun lalu yaitu sebagai upaya untuk mempersiapkan bima sebagai daerah tujuan wisata. TAPI BUKTINYA.......................? Tempat itu tak lebih dari tempat untuk melakukan transaksi perjudian, arena pacuan kuda yang dibangun oleh pemerintah dengan dana dari pajak rakyat itu tidak lebih dari tempat yang di legitimasi menjadi arena perjudian baik yang dilakukan oleh rakyat kecil maupun pejabat daerah bima. Tapi menarik juga, meskipun para pejabat bima tahu betul masalah ini, malah mereka tidak tanggung-tanggung rela mengeluarkan uang sampai ratusan juta rupiah untuk membeli dan memelihara kuda pacuan. Dan lucunya lagi, beberapa hari lalu, saya membaca di sumbawanews.com bahwa pejabat bima beramai-ramai membeli kuda dari flores yang berukuran lebih besar dari kuda asli bima untuk dijadikan kuda pacuan dan masalah ini menjadi polemik dan meresahkan anggota dewan kabupaten. Petinggi di kabupaten bilang bahwa pacuan ini sebagai upaya untuk melestarikan kuda-kuda bima dari kepunahan, tapi kok pak bupatinya punya kuda yang dibeli dari sumba??? GIMANA DENGAN MASALAH KOTORAN KUDA?? Pejabat-pejabat pemilik kuda pacuan itulah yang harus dahuluan kita tegur karena kebanyakan dari mereka kalo lagi membawa kudanya lewat jalan raya, mereka tidak pernah memperhatikan kalo kudanya mengeluarkan kotoran sembarangan. Note : ngomong-nogmong, saya dulu punya kuda juga. Secara khusus kuda itu saya namakan SAMADAANGI, karena terilham oleh nama kumpulan milis kita sebelum keberadaan bimacenter. Ketika suatu hari saya pulang kampung dan diajak oleh bapak untuk melihat tarene jara, saya kaget bahwa disana orang2 banyak yang menjadikan ajang pacuan kuda untuk berjudi. Terus besoknya, saya minta bapak saya untuk menjual kudanya. Komentar anda dibutuhkan demi kesinambungan diskusi. santabe, La Sali mangari weru. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh :Jannah Bakti (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) masalah kotoran kuda harusnya jadi tantangan bagi para penguasa, ini kan masalah klasik dah dari jaman tahun 0001. kadang ada penampungan kotoran yang dipasang di benhur tapi para kusir juga ga tau harus dibuang ke mana, kalau ga habis tercecer ya..kusir itu sendiri yang buang sembarangan. mungkin harus ada insentif dan hukuman bagi para kusir (sebagai permulaan) agar mereka sadar. salam, janabakti ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh :Arya Asi (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) orang bodoh yang mengganggap kotoran kuda itu polusi, dari kotoran kuda tersebut jika diolah dengan baik maka akan menghasilkan uang karena dari kotoran tersebut bisa dibuat jadi pupuk atau jadi bahan bakar gas. itu adalah tugas kita sebagai generasi muda yang progresif untuk dapat belajar mengembangkannya. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh :Jannah Bakti (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) Benar seperti yang dikatakan oleh Arya Asi, makanya saya bilang kotoran kuda adalah tantangan tersendiri. mungkin bisa jadi pupuk kalau diolah lebih lanjut atau bisa jadi alternatif Biofuel, siapa yang mau? saya usul untuk calon bupati yang akan datang untuk membuat terobosan opuler "berani membeli kotoran kuda mis 1 kg = Rp 100,-" niscaya Bima akan bersih dari kotoran kuda dan akan ada profesi baru "pemulung kotoran kuda" hm...membuka lapangan kerja baru. salam, janabakti NB. gimana dik Dewi Y. rencana pertemuannya? memang banyak hal yg hendak kita bicarakan. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh :Oleh : Dewi Yufriati (
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
) Naahhhh...ide Cerdas seperti Aba Arya Asi ini yg kita tunggu2.... Anda mewakili Kaum Muda yg Progresif, idealis dan kritis..salutt, salut... Tp yg perlu dicermati, Polusi akibat kotoran kuda di Bima sebenarnya bkn substansi persoalan yg sesungguhnya...byk sudut pandang yg perlu kita gali terutama masalah kebersihan lingkungan di bima masih kurang disadari. Catat, ini akibat kurangnya ketertiban dan kesadaran khususnya pemilik transportasi kuda, ketentuannya kuda/benhur harusnya disertai penampung kotoran sehingga ketika dioperasikan dijalan/mangkal disuatu tempat kotorannya tidak tercecer dimana2...jadi pertama seharusnya ada aturannya dan perhatian dr Pemda utk masalah kebersihan lingkungan. Kota Yogya mgkn bs jadi contoh, disana dibuat rute khusus delman dan meliwati jln2 utama hanya pada jam tertentu serta aturan penampung kotoran diberlakukan sengat ketat. kuda-delmannya dipakaikan celana (celana kuda dibuat dr ban bekas) jd meski byk delman dipusat kota sekitar Malioboro, Kota Yogya tetap nyaman dan asri bukan?kenapa Bima tidak bs seperti itu, ini kembali persoalannya jg bertumpu pada siapa yg berhak menertibkan aturan dan kesadaran bagi pemilik angkutan kuda di Bima, apakah pemda bima yg diharapkan peduli? JANGAN KAN KOTORAN KUDA , Masalah yg lbh penting dr kotoran kuda pun BUKAN PERIORITAS PEMDA SAAT INI. Seperti kata Aba sali, lebih seru pasang taruhan di arena pacuan kuda dan kemana2 pejabat bima melintas jalan naik mobil dinas Ford Ranger..wah Boro-boro kepikiran Kotoran kuda...:-)) kedua, dr sudut pandang pemberdayaan ekonomi kerakyatan misalnya, bs menjadi salah satu pilihan aktifitas peduli masyarakat (Kerjasama dg teman2 aktifis LSM lingkungan tentunya). Masalah pemanfaat kotoran Hewan yg diolah menjadi pupuk atau bahan bakar gas bukan sesuatu yg baru, sdh byk dilakukan didaerah2 lain termasuk daerah cth pengembangan peternakan di Ciampea Bogor sdh berhasil dikembangkan, tujuannya sbg Pemanfaatan energi biogas utk mendukung agribisnis di pedesaan ... btw, ini imajinasi saya sendiri saja, sekiranya ini bs digarap serius, bs dibuat basis home industri khusus pembuatan celana kuda (bahan baku dari ban-ban bekas) dan home industri pengolahan limbah kotoran utk produksi biogas, home industrinya menerima semua jenis kotoran hewan dari kotoran ayam, itik, kerbau, sapi, bisa juga manusia....(musti bikin septictank komunal kal utk ini) lumayan utk menambah tonnase dan menambah pendapatan dr sampah/kotoran tak berguna. kalo kira2 hitungan tonnase kotoran yg terkumpul seluruh daerah bima dari semua hewan kuda, ternak sapi, ayam dan itik ..kira2 mgkn sampai juta-an ton (blm ada hsl penelitian sih) menurut data dari struktur populasi (Ibu, bapak dan anak hewan) kotoran segar yg dihasilkan per hari bisa mencapai 12 kg/ekor/hari, jd kalo dikalikan dgn jumlah populasi mmg bs juta-an ton, cth yg sdh ada penelitiannya dr kotoran sapi, dihasilkan 30 lt gas/kg kotoran sapi. Nilai kalori dari 1 meter kubik biogas adalah sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. sangat berguna bukan? ok guys..ada yg tertarik dan dijadikan lahan usaha ? InsyaAllah..amin, Merintis itu mmg tidak mudah, tp biasanya org bima punya adat. Kl tetangga sdh berhasil baru ngeh dan ikut-ikutan...Bisnis apa yg keliatan sukses, ntar semua ikut ramai2 bisnis ini-itu, ntar bangkrut juga sama2 krn kurang menyiasati pasar dan dasar ikut2an tanpa perhitungan... salam, Dewi Views: 18451 | Print
powered by AkoComment Tweaked |
||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 12 August 2008 ) | ||||||||
Yang Online
We have 76 guests onlineKomentar Terakhir
| Benang Kusut Generasi Pendidik... |
| benar-benar menarik untuk membaca artikel ini. meskipun saya... |
| 06/05/10 07:13 More... |
| By Edward |
| Pikada dan Harapan |
| search [url=http://www.google.com] search [/url] ... |
| 06/05/10 07:08 More... |
| By addy |








Ini oleh2 keluhan teman di Jakarta yg baru pulang dr daerah Bima hehe...
Comments (3)
















