Produk Unggulan
| Madu Alam Bima |
| Sarung Tenun |
| Mutiara Alam |
Pengunjung







![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Kemarin | 220 |
![]() | Minggu ini | 1001 |
![]() | Bulan ini | 6899 |
![]() | Total | 208823 |
Home
"*****"
| Bima dan Kejayaan Kapal Kayu |
|
|
|
| Friday, 06 March 2009 | ||||||||
|
Dikutip dari www.sumbawanews.com
------------------------------------------------
BUNYI mesin ketam meraung-raung disertai suara percikan ombak pasang-surut, mendominasi pesisir Dusun Lamere, Desa Buncu, Kecamatan Sape, Bima (Pulau Sumbawa), NTB. Tanggal 2 Desember 1999 siang, Uba Idris dan M Ali, tengah melicinkan kayu bahan pembuat kapal, yang dalam proses penyelesaian. Kapal berbobot 400 ton, panjang 17 meter dan lebar 9,4 meter itu milik H Dawira, seorang pengusaha ekspedisi dusun itu.Kapal dikerjakannya Oktober 1998, menghabiskan 300 meter kubik kayu; terdiri dari kayu ulin, kayu besi dan kayu sambi. Kapal diperkirakan jadi Maret 2000, kemudian bakal dipasangi mesin 300 PK. Tak jauh dari mereka, terlihat Aco Daeng Mappi (30), mengayun kapak guna membelah kayu pada bagian dinding haluan kapal. Kapal berbobot mati 2,5 ton itu, pesanan Abdurrahman, nelayan asal Desa Tanjungluar, Lombok Timur, yang bakal dipakai menangkap hiu. "Biaya total membangun kapal siap melaut, ditambah mesin 30 PK sebesar Rp 25 juta," tutur Aco tentang kapal yang menghabiskan kayu enam meter kubik itu. Dusun Lamere berjarak lima kilometer dari Desa Sape, 60 km selatan Raba, ibu kota Bima. Lewat jalan "keriting" penuh kerikil dan berdebu, belum banyak yang mengetahui kalau warga dusun itu mahir membuat kapal kayu tradisional. Bandingkan misalnya warga Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang andal membuat kapal dan memang akrab dengan dunia bahari. Padahal Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) NTB menyebut ada empat desa di Kabupaten Bima yang kini menekuni pembuatan kapal kayu. Mereka ini adalah keturunan Bugis yang dalam sejarahnya mengembara dan menetap di daerah pesisir Bima. Di tempatnya yang baru, mereka melanjutkan tradisi pendahulunya, membuat kapal sebagai mata pencarian.
***
DI masa lampau, pelabuhan Bima menjadi persinggahan para saudagar yang melayari jalur Malaya, Jawa dan Maluku, sehingga menempatkan Bima sebagai kota dagang di ujung timur Pulau Sumbawa. Banyak pengusaha pribumi yang ulet dan lahir berkat keberadaan pelabuhan itu, lalu mengadakan hubungan dengan daerah lain. Dari Bima hasil bumi disuplai keluar daerah seperti Manggarai, ujung barat Pulau Flores, Pulau Sumba (keduaya di NTT), Makassar (Sulsel) dan Banjarmasin (Kalsel). Sebaliknya, para saudagar dengan membawa perahu/kapal layar pun menjual kebutuhan pokok rakyat Bima. Semua ini tampaknya membuat keterampilan para perajin kapal tersalurkan. Dewasa ini, walau transportasi darat memangkas rezeki muatan kapal kayu yang kemudian disebut Perahu Layar Motor (PLM), namun permintaan kapal terus mengalir. Alasannya, para nelayan tradisional maupun pengusaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) tidak mampu membeli kapal modern, di samping tidak semua rute pelayaran, seperti pulau-pulau kecil, bisa dilayani kapal besar untuk angkutan barang dan penumpang. Namanya pembuatan kapal tradisional, maka peralatan yang digunakan pun sederhana antara lain kapak, alat serut listrik, gergaji, pahat, bor listrik dan palu. Lokasi kerja, bukanlah galangan modern, melainkan di pesisir atau kebun dekat pantai, sehingga bila kapal sudah selesai gampang ditarik ke laut. Sama seperti di awal pengerjaan, kapal yang siap melaut didahului acara syukuran, yang intinya memohon perlindungan Tuhan agar tahapan pengerjaan berjalan baik, dan kapal dihindari dari bahaya selama beroperasi. Untuk menyeret kapal itu dilakukan secara gotong-royong bersama warga dusun yang berjumlah sekitar 100 KK itu. *** SISTEM pembuatan kapal tradisional agak unik. Kalau berdasarkan teknologi, rangka kapal dibuat duluan dilanjutkan pemasangan bodi kapal, maka perajin membuat bodi dahalu, rangkanya dipasang kemudian, bodi kapal ditanggung seimbang/simetris dan bisa bertahan 30 tahun. Bahan baku utama diperoleh dari luar daerah, mengingat kayu yang layak untuk kapal nyaris punah di kawasan hutan Bima. Kayu besi, kayu sambi, kayu ulin didatangkan dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Para perajin memiliki spesifikasi tersendiri, yang dilihat dari bobot kapal yang dibuatnya. Idris dan Ali yang mengaku sepuluh tahun terakhir membuat 50 kapal, 'ahli' membikin kapal dengan bobot 400 ton, sedang Aco terampil membangun kapal berbobot 1,5 - 2,5 ton. Terhadap kapal berbobot 400 ton itu, Idris dan Ali mengambil upah borongan sebesar Rp 40 juta, di luar makan-minum dan bahan yang disediakan pemilik. Dari total upah, mereka diberi panjar Rp 10 juta, lalu uang diambil bertahap, sesuai kesepakatan pekerja-pemilik. Sedang Aco lebih senang menyediakan bahan dan mengerjakan sendiri kapal dengan uang pribadi. "Modalnya dari hasil membuat kapal yang saya simpan. Setelah itu saya pakai beli bahan," kata Aco yang acap didatangi pihak Kantor Bank, namun ditolaknya. Betapa tidak, "pinjam Rp 10 juta, sampai-sampai jumlah tiang rumah ditanya," Aco mengutarakan berbelitnya mekanisme birokrasi perbankan. Oleh karena itu, Aco yang biasanya membangun kapal untuk memancing ikan hiu, menentukan harga kapal pada pemesan, dan bila cocok, kapal dikerjakan. "Daripada rugi, saya lebih baik tidak kerja," sahut Aco. *** IDRIS, Ali dan Aco mengaku, keuntungan membuat kapal Rp 5 juta Rp 6 juta. Pendapatan mereka habis untuk biaya hidup, sekolah anak-anaknya. Memancing ikan, menangkap nener dan semacamnya, menjadi ladang pengharapan bila pesanan lagi kosong. Celakanya, dengan terbatasnya sarana dan fasilitas tangkapan, mereka hanya menjala ikan dengan bagan (keranjang) di seputar perairan dusun. Selagi nasib baik, nelayan bisa mendapat lima keranjang (40 kg/keranjang) seperti ikan teri dan cumi-cumi. Ikan teri dijual di tempat pelelangan ikan (TPI) Rp 20.000, dan cumi Rp 6.000/keranjang. "Saya pernah dapat satu ton tangkapan, dan saya jual Rp 6 juta," tutur Aco, meski hal itu amat jarang terjadi, bahkan seringkali mereka pulang dengan tangan hampa. "Kami ibarat pekerja bangunan. Bisanya membuat bagus rumah orang lain, tetapi rumah sendiri sebatas tempat berteduh dari hujan dan panas," begitu ucap Idris dan Ali. Motto Jalesveva Jayamahe (di laut kita jaya), setidaknya disumbangkan juga dari keberadaan industri kapal tradisional di Bima. Karenanya, sejalan ditunjuknya Sarwono Kusumaatmadja selaku Menteri Eksplorasi Laut, beserta paradigma barunya; laut menjadi pemersatu, sumber kebangkitan ekonomi nasional, adakah para perajin diajak berpartispasi mengembalikan kejayaan kita di laut...? (rul)
Sumber: Kompas
Views: 2249 | Print
powered by AkoComment Tweaked |
||||||||
| Last Updated ( Friday, 06 March 2009 ) | ||||||||
Yang Online
We have 28 guests onlineKomentar Terakhir
| Benang Kusut Generasi Pendidik... |
| benar-benar menarik untuk membaca artikel ini. meskipun saya... |
| 06/05/10 07:13 More... |
| By Edward |
| Pikada dan Harapan |
| search [url=http://www.google.com] search [/url] ... |
| 06/05/10 07:08 More... |
| By addy |








BUNYI mesin ketam meraung-raung disertai suara percikan ombak pasang-surut, mendominasi pesisir Dusun Lamere, Desa Buncu, Kecamatan Sape, Bima (Pulau Sumbawa), NTB. Tanggal 2 Desember 1999 siang, Uba Idris dan M Ali, tengah melicinkan kayu bahan pembuat kapal, yang dalam proses penyelesaian. Kapal berbobot 400 ton, panjang 17 meter dan lebar 9,4 meter itu milik H Dawira, seorang pengusaha ekspedisi dusun itu.
Comments (2)
















