Home arrow Bima Menggugat arrow Bendera Setengah Tiang Untuk Pendidikan Tinggi Bima
"*****"

Bendera Setengah Tiang Untuk Pendidikan Tinggi Bima PDF Print E-mail
Tuesday, 23 June 2009
Oleh : Adi Romansah*

Perguruan Tinggi (PT) di Dana Mbojo, bak jamur dimusim hujan. Namun tidak semua jamur bisa dikonsumsi, begitu juga Perguruan Tinggi. Maka hati-hatilah memilih Perguruan Tinggi di Bima. Kondisi saat ini, berbagai Perguruan Tinggi di Bima sedang berusaha menarik minat para calon mahasiswa. Pilihlah Perguruan Tinggi yang tidak menipu, sebab kita tidak ingin menjadi penipu. Itupun jika kita sebagai masyarakat Bima yang tidak mau ditipu mentah-mentah. Perguruan Tinggi di Bima hadir bak banjir bandang, "Datang tak diundang, pergi tak diantar". (Ingat…! Bagaimana Universitas Bima Sakti dengan lihai menipu rakyat yang bisa di tipu dengan jargon pendidikan, telah melahirkan "Sarjana Karbitan").
 
Pendidikan Bima hari ini bukan lagi dalam rangka mencerdaskan anak-anak bangsa tetapi beralih menjadi pembiasaan anak bangsa dengan instanisasi pendidikan, instan ijasah, instan budaya, instant masa depan. Sehingga dalam "rahim generasi", kini sedang "mengandung" budaya Instan. Tak heran jika yang "tercetak" nantinya adalah generasi Bima yang mengedepankan prestise bukan prestasi. Lantas dimana eksistensi pendidikan yang "me-Manusia-kan Manusia".

Penulis tergelitik dengan aksi demonstrasi berbagai element mahasiswa Bima beberapa hari terakhir. Tiada hari tanpa berita Perguruan Tinggi (PT) termuat diberbagai media cetak Bima. Lembaga Legislatif akhir-akhir ini disibukkan dengan perdebatan terkait alokasi anggaran APBD II untuk salah satu Perguruan Tinggi (PT) Bima yang rencanannya akan menjadi cikal bakal Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Lembaga Eksekutif mulai merasa "alergi" dengan aksi sana-sini para demonstran yang menuntut transparansi dan perbaikan kebijakan pembangunan. Hal tersebut nampak dari di acuhkannya aksi para demonstran oleh petinggi-petinggi eksekutif kabupaten Bima. Seakan-akan aksi yang mewarnai dinamika sosial Bima tidak memiliki hasil yang jelas. Mengalir dan menguap begitu saja.

Aksi IMM (Ikatan Mahaswiswa Muhammadiyah) komisariat STKIP dan STAIM Bima (Amanah, senin, 15/6) yang berakhir bentrok, terekspos pada salah satu televisi nasional melalui "Sekilas Info", kemudian diberitakan pula pada "Seputar Indonesia" serta sempat tertayang pada "Buletin Malam" (stasiun televisi yang sama pada hari yang sama). Aksi tersebut terkait dana Rp 2,5 miliar yang diduga dimanipulatif dalam perencanaannya kedepan oleh pihak eksekutif Kab Bima. Berita pun mengalir begitu saja, pemerintah Kab Bima belum juga tergugah untuk segera mengambil langkah bijak. Dinas terkait (Dikpora Kab Bima) bungkam dan mencari posisi aman dengan menyatakan bahwa, "Masalah Perguruan Tinggi bukan wewenang kami, hal itu merupakan dibawah tanggungjawab Kopertis VII" (Amanah, 10/6).

Belum pudar ingatan kita terhadap "tragedi" Pendidikan Tinggi Bima atas munculnya Universitas Bima Sakti (UBS) yang me-wisudah-kan lebih dari 300 mahasiswa tanpa adanya perhelatan kuliah yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual. Baru-baru ini muncul Universitas Harapan Bima (UHABI) yang sedang menyebarkan iklan penerimaan mahasiswa baru, pindahan, transfer, lanjutan untuk program Strata 1 (S1), Strata 2 (S2) atau magister dan Strata 3 (S3) atau Doktoral. Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa untuk membuka program S3 dibutuhkan tenaga pengajar sekurang-kurangnya 5 orang bergelar Professor. Di wilayah Indonesia Timur, Makassar adalah satu-satunya yang direkomendasikan untuk membuka program S3. Yang lebih ironi lagi, UHABI membuka 5 Fakultas, didalamnya terdapat 18 jurusan yang akan membagi lagi sekian banyak program studi (Prodi). Berarti hampir 6.000 mahasiswa tiap tahun akan ditampung sebagai mahasiswa baru. Sedangkan kampus perkuliahan yang direncanakan adalah menumpang pada MTsN Sila dan SMPN 1 Bolo. Lagi-lagi pemerintah kabupaten Bima melalui Dikpora melempar persoalan ini kepada kopertis VII dan masyarakat yang akan memilih Perguruan Tinggi tempat melanjutkan pendidikan.

Tak terkecuali terhadap keberadaan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES & Kebidanan). Setelah STIKES Bima Cab Mataram yang berada di jln Gatot Soebroto Sambinae, menyusul berdirinya STIKES Yahya dan Akbid Harapan Bunda, lalu kemudian beruntun muncul STIKES yang beralamat di Monggonao dan Penaraga. Termasuk STIKES dan AKBID yang di buka di UHABI. Lantas, manakah yang sebenarnya telah mendapat ijin operasional dan administratifnya serta layak untuk dilamar? Karena menurut penulis, akan berpengaruh terhadap output kelak serta akreditasi Perguruan Tinggi yang menentukan kelayakan ijazah. Semua ini sangat berpengaruh pula pada kompetisi lapangan pekerjaan yang akan diperebutkan. Siapa yang akhirnya akan merugi?

Menurut hemat penulis, ada kesengajaan oknum tertentu yang membawa persoalan pendidikan tinggi ini pada koridor perpolitikan Bima menjelang 2010 (Pilkada Kab Bima) serta 2013 (Pilkada Kota Bima) mendatang. Ada upaya tertentu dalam rangka mem-bisnis-kan pendidikan sebagai komoditi politik serta pangsa pasar yang menguntungkan secara ekonomis dalam meraup keuntungan yang lebih besar. Karena dalam pengamatan penulis, perekrutan para calon mahasiswa baru untuk perguruan-Perguruan Tinggi baru yang ada di Bima, dilakukan sebelum uji kelayakan serta ijin operasional dari kopertis/kopertais keluar. Pendidikan bukan ranah untuk mencari popularitas politik. Generasi Bima butuh di didik bukan ditindih, generasi Bima butuh di ajar, bukan untuk kurang 'ajar'.

Sebagai akhir dari tulisan ini, marilah kita sama-sama menaikan bendera setengah tiang untuk pendidikan tinggi di Bima. Marilah kita membungkam seperti halnya para akademisi-akademisi yang tidak pernah bersuara atas tragedi pendidikan kita saat ini. Seperti para birokrasi yang memandang pendidikan tinggi sebelah mata. Seperti para sebagian masyarakat yang memandang pendidikan tinggi dengan setengah hati. Padahal, pendidikan tinggi pula lah yang menentukan SDM (Sumber Daya Manusia) Bima ke depan. Dalam rangka menjadikan pemerintah yang good governance, civil sociaty (masyarakat madani), unnerfuse generation (generasi yang sadar) serta terbangunnya ISQ (Intelectual Spiritual Quality) masyarakat Bima seutuhnya.

*Penulis adalah Mahasiswa STKIP Bima
Aktif berkecimpung dalam Komunitas Kafe Baca `BABUJU',

( Dimuat Di Suara Mandiri, 18 Juni 2009)

Views: 1193 | Print

RSS comments

Write Comment
Name:
E-mail
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



MathGuard security question, please solve:
 
 9          5J5      
5T     4      E   S23
 L    RJO   JG1      
 X     8    2     242
6HH         QLY

powered by AkoComment Tweaked

 
Maja Labo Dahu | Nggahi Rawi Pahu