Produk Unggulan
| Madu Alam Bima |
| Sarung Tenun |
| Mutiara Alam |
Pengunjung







![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Kemarin | 220 |
![]() | Minggu ini | 1001 |
![]() | Bulan ini | 6899 |
![]() | Total | 208823 |
Home
Artikel & Berita
MEMBANGUN BIMA DARI PESISIR
Artikel & Berita
MEMBANGUN BIMA DARI PESISIR "*****"
| MEMBANGUN BIMA DARI PESISIR |
|
|
|
| Tuesday, 08 December 2009 | ||||||
|
Oleh : Muhammad Fahri*)
Mahasiswa Pasca Sarjana Unibraw Malang dan Staf Pengajar SMKN 1 Bima. Daerah Bima (Kabupaten dan Kota) terletak pada gugusan kepulauan sunda kecil yang sekarang kita sebut dengan Nusa Tenggara Barat. Merupakan bagian timur dari Pulau Sumbawa. Posisinya sangat penting dalam perspektif Nusantara. Tak heran jika Bima dalam sejarahnya menjadi bagian daerah pelabuhan penting dalam merangkai keutuhan wilayah Nusantara. Bangsa penjajah sebangsa kolonial Belanda menjadikan Bima sebagai daerah transit menuju belahan timur Indonesia baik itu dalam kepentingan penjajahannya maupun dalam regulasi perdagangannya. Letak Bima yang sangat strategis ini tidak lain adalah pemberdayaan potensi wilayah yang terkait dengan kelautan. Akibatnya, Bima menjadi daerah yang dikenal dunia luar. Berangkat dari sini, pembangunan Bima sejak dulu telah dirintis dari sektor wilayah laut sebagai titik awal perkembangannya. Masyarakat pesisir sebagai bagian terbesar dari komposisi penduduk Bima, menjadi objek sekaligus subjek pelaku pembangunan kedepan. Orientasi pembangunan diwilayah pesisir semestinya tidak hanya menjadi pemanis rencana pembangunan daerah. Melainkan harus menjadi fokus utama arah strategi pembangunan kedepan. Dengan demikian, sesungguhnya kita telah bersentuhan nyata dengan mayoritas masyarakat Bima itu sendiri. Permasalahan Pembangunan Pesisir Bima. Menelaah permasalahan masyarakat pesisir dari berbagai aspek selalu saja catatan pentingnya adalah angka kemiskinan yang kerapkali mengemuka. Berbagai regulasi untuk menyikapi persoalan ini sering selalu berbias dan tampa hasil memuaskan. Telaah kritis yang kemudian tertuang dalam program pembangunan selalu kandas ketika realisasinya dilapangan. Ambil contoh misalnya, subsidi alat tangkap dan perahu nelayan yang tidak menyentuh substansi. Apalagi dengan kualitas alat tangkap dan perahu yang memiriskan. Sekali pakai langsung rusak. Bukan hasil tangkapan yang berlimpah tetapi biaya operasional dan perbaikan menjadi meningkat. Alhasil, program itu sulit mencapai pemberdayaan nelayan yang dimaksudkan. Terlepas dari itu, mencermati kultur masyarakat pesisir yang unik sebagai titik serapan untuk memandu arah kebijakan pembagunan pesisir mutlak direposisikan ulang sehingga kebijakan inovatif dapat diharapkan menjadi pola baru yang lebih bermanfaat. Sebenarnya, jika kita kaji lebih mendalam lagi keterkaitan kultur dengan taraf kehidupan komunitas pesisir ini sangat erat berkenaan dengan perilaku keseharian yang tidak terpola. Pendapatan para nelayan, jika diukur dengan nominal sebenarnya jauh dari cukup untuk hidup pada taraf yang baik. Dengan pendapatan yang cukup tersebut masyarakat pesisir memiliki kemampuan untuk hidup lebih dari sejahtera. Tetapi, pendapatan yang diperoleh dalam waktu yang relatif singkat dan jumlah yang banyak mendorong perilaku konsumtif yang jauh lebih tinggi. Sehingga modal untuk melanjutkan usaha kadang terkuras untuk memenuhi sifat konsumerisme yang parah tersebut. Belum muncul kebiasaan baik seperti halnya menabung untuk menyisihkan sebagian pendapatan sebagai modal untuk pemenuhan kebutuhan lain yang juga bersifat meningkatkan derajat kesejahteraannya. Kebutuhan pendidikan keluarga adalah salah satu indikator untuk menilai taraf hidup sebuah komunitas. Kebutuhan ini memerlukan cukup modal agar dapat dicapai. Selain semangat untuk melanjutkan pendidikan yang masih rendah dikalangan masyarakat pesisir juga disebabkan oleh keterbatasan dana yang ada. Faktor ini mengakibatkan kaum pesisir ini tertinggal untuk melakukan pemberdayaan masyarakatnya. Belum lagi kita coba cermati praktek ijon dan renten yang kian marak dikalangan ini. Pada kasus ini, masyarakat pesisir hanya menjadi objek pemerasan yang produktif untuk mendulang keuntungan. Keterpurukan di aspek ekonomi mengantarkan masyarakat pesisir kita pada berbagai rantai ketidakberdayaan yang semakin panjang. Keterbelakangan pendidikan akan menghasilkan sumberdaya manusia yang seadanya. Ketrampilan dan penguasaan teknologi masih menjadi harapan yang hampa. Dengan praktek penangkapan ikan yang ketinggalan teknologi hanya akan menghasilkan produksi yang minimal dan tentu saja tidak efisien secara ekonomi. Dengan keadaan yang demikian, upaya-upaya yang tidak ramah akan muncul untuk menjawab kebutuhan hidup yang semakin mendesak. Cara penangkapan ikan dengan jalur ilegal kerap dilakukan untuk mendapat jumlah tangkapan yang memadai dan singkat. Pengeboman ikan dan penggunaan baha-bahan kimia (potasium sianida) adalah pilihan darurat yang kerap menjadi catatan informasi negatif dari aktifitas masyarakat pesisir. Padahal, daya rusak aktifitas tersebut tak terbantahkan dan justru akan merusak potensi perikanan yang menjadi lahan garapannya dalam jangka yang jauh lebih lama. Kenyataannya, untuk mendapatkan ikan dalam jumlah yang sama dibutuhkan usaha yang lebih besar lagi disebabkan produktifitas ikan yang menurun. Jumlah ikan menurun, daerah tangkapan (fishing ground) lebih jauh, biaya operasional meningkat, dan akibat tidak langsung lainnya yang sangat merugikan. Pemberdayaan masyarakat pesisir yang meliputi aspek kultural menjadi catatan penting pembangunan daerah Bima kedepannya. Dengan menyentuh sisi kultural ini diharapkan pemberdayaan masyarakat justru lahir dari kesadaran yang cukup dikalangan internal komunitas itu. Berangkat dari sini, sangat dapat diharapkan perubahan yang berarti dalam rangka memacu perkembangan dan kemajuan pembangunan akan tercapai. Memang, upaya merubah kebiasaan kolektif masyarakat memiliki tantangan berat dan membutuhkan keseriusan. Tetapi upaya inilah yang dibutuhkan untuk memoles masyarakat pesisir menuju perubahan yang lebih baik. Program Pemberdayaan Pesisir. Sebagai urun rembug, dalam memberi solusi permasalahan masyarakat pesisir dalam rangka pembangunan pesisir yang lebih baik kedepan perlu adanya upaya menyentuh sisi dasar yaitu aspek kultural masyarakat yang tidak kondusif dalam menggerakkan percepatan pembangunan pesisir Bima secara menyeluruh. Bahwa masyarakat pesisir adalah masyarakat yang egaliter tidak bisa dipungkiri, tetapi kenapa masyarakat diwilayah ini masih berkutat dengan persoalan yang melilit yaitu ketidakberdayaan dan kemiskinan struktural. Beberapa hal yang perlu dicermati lagi, yaitu :
Banyak sekali agenda pembangunan yang perlu
dipertimbangkan dalam rangka mengubah aspek kultural masyarakat pesisir
Bima untuk menjadi acuan dan arah kebijakan pembangunan pesisir
kedepan. Semua hanya berangkat dari niat baik untuk menghantarkan
masyarakat kita meraih kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Semoga.
Dikutip dari : Satu Bima Facebook Group Views: 883 | Print
powered by AkoComment Tweaked |
||||||
| Last Updated ( Tuesday, 08 December 2009 ) | ||||||
Yang Online
We have 105 guests onlineKomentar Terakhir
| Benang Kusut Generasi Pendidik... |
| benar-benar menarik untuk membaca artikel ini. meskipun saya... |
| 06/05/10 07:13 More... |
| By Edward |
| Pikada dan Harapan |
| search [url=http://www.google.com] search [/url] ... |
| 06/05/10 07:08 More... |
| By addy |
























