Home arrow Artikel & Berita arrow Bima Butuh Pemimpin Yang Tepat Untuk Kondisi Yang Tidak Tepat
"*****"

Bima Butuh Pemimpin Yang Tepat Untuk Kondisi Yang Tidak Tepat PDF Print E-mail
Monday, 15 February 2010
Oleh : Subhan*

Pada saat penulis berada di Mataram beberapa minggu yang lalu, Keluarga dari kampung penulis, yang kebetulan juga berada di Mataram dalam rangka `jalan-jalan. Meminta kepada penulis untuk membawanya keliling kota Mataram, melihat kehidupan social masyarakat kota Mataram dari dekat. Berbagai `warna' kehidupan di'rekam'nya dalam benak dan sanubari. Setelah puas mengamati dan memperhatikan carut marut kehidupan perkotaan, sebelum kembali ketempat inapan, penulis diminta untuk temani singgah di salah satu pusat perbelanjaan kota tersebut. Ia menuju ke rak penjualan televisi (TV). Ia melihat-lihat tv-tv yang dijejer. Ia memilih sebuah tv ukuran 21 inc. Harganya tidak masalah, karena ukurannya sudah disenangi. TV itu dihidupkan untuk dites. Keluarga dari kampung itu tidak memperhatikan.

Juga, sewaktu penjual menjelaskan beberapa soal teknis TV tersebut. Ia justru meletakkan sejumlah uang di atas meja, untuk membayar harga TV yang telah dipilihnya. Penjual memintanya agar pembayaran dilakukan di bagian kasir. Apa tidak membeli juga antene luar? Tidak perlu, katanya. Sebab, di kampung warga berlangganan "TV kabel", layanan yang bisa mengakses banyak sekali jaringan TV dunia.
 
Keluarga penulis itupun dengan bangga memboyong TV itu ke kampung. Tentu, kini ia dan keluarga seisi rumah, tidak perlu ke rumah tetangga lagi untuk menonton seluruh dunia dan gaya hidupnya. Dunia dan gaya hidupnya kini bisa disaksikan dari TV sendiri di rumah sendiri. Di kampung, orang-orang dengan TV sendiri menyaksikan dunia dan gayanya lewat "TV kabel", sudah banyak. Orang-orang di kampung dan pedalaman terbiasa dengan jaringan TV tersebut. TV nasional (dalam negeri) tidak menjadi prioritas untuk ditonton. Maka, tak mengherankan kalau gadis-gadis di pelosok-pelosok desa sudah pandai berpakaian dengan gaya mode Paris. Setidaknya, yang ditiru dari Paris ialah "kepandaian" membuka bagian tubuh yang dalam tradisi masyarakat kita (Bima) dipandang sebagai bagian tubuh yang dihormati dan karena itu, mesti ditutup. Karena dibuka, tak sedikit yang melihatnya dengan pandangan yang tidak terhormat. Pemuda-pemuda desa, meski sebagiannya tampak kampungan, namun gaya rambutnya gaul dan cara berpakaiannya pop. Gaya aneh-aneh yang bisa dilihat di TV dunia, kini bisa pula dilihat di desa-desa negeri ini –Negeri Bima-.

Malas menonton TV nasional, tidak terlalu salah. Bukankah TV-TV negeri ini sudah juga diwarnai, bahkan meniru TV-TV dunia. Tidak mudah menunjuk TV yang warnanya dominan jati diri bangsa ini. Media bukan TV sekalipun pun ibarat setali tiga uang. Arus globalisasi gaya hidup melanda dan menjungkir-balikkan jati diri bangsa lewat media. Dalam keguncangan nilai dan jati diri demikian, pernah ada seorang tokoh berniat menutup semua agendanya pada bulan Agustus lalu, tidak menunggu Desember 2009. Alasannya, ia capek sudah berkeliling ke seluruh negeri ini, juga keluar negeri, tapi warga bangsa ini tampaknya tidak mau mengubah diri untuk menjadi maju. Mungkin September sampai Desember 2009 ia akan pakai untuk merenungkan kembali, apa yang harus dilakukan lagi agar bangsa ini tidak mengulangi kebiasaannya masuk ke lubang kesalahan yang sama dan mau mengubah dirinya menjadi bangsa yang maju.

Tentu orang boleh setuju atau tidak setuju dengan apa yang penulis uraikan di atas. Atau, juga bingung dengan keadaan anak negeri sekarang ini. Pusat perbelanjaan dibangun setiap pojok. Mal-mal itu juga ramai dikunjungi. Akan tetapi, dengan amat jelas pula dapat dilihat di mana-mana orang-orang yang hidupnya susah, tempat pemukiman yang kumuh tidak tertata, dan lingkungan hidup yang memendam kemarahan. Bagian akhir periode pemerintahan daerah pilihan rakyat sudah berjalan. Kenyataannya, bukan hanya soal demo dan mahasiswa (apalagi pemindahan Ibu Kota Daerah) yang susah diurus, tapi harga gula pun susah diurus. Tentu, apa lagi jika diharapkan bisa menjadi tauladan serta mengembalikan jati diri daerah. Merubah cara dan pola hidup masyarakat Bima kearah yang rasional saja tersendat-sendat akibat itikad politik yang serakah. Masih ada enam bulan lebih ke depan untuk berpikir lebih jernih dan sungguh-sungguh mengenai siapa sesungguhnya pemimpin yang tepat untuk Daerah yang kondisinya tidak tepat (benar) ini.

Kondisi social masyarakat Dana Mbojo (Bima) saat ini sangat miris, bila dilihat dari `pojok' Leskop (Lesehan Kopi) Amahami. Selain akibat westernisasi un-globalization yang mempengaruhi style dan stigma berpikir Ndai Mbojo, juga akibat `gesekan politik' yang luar biasa sebagai pra perhelatan akbar pilkada kab Bima 2010 mendatang. Konflik Ngali-Renda yang tak pernah usai menjadi warna tersendiri yang perlu dikaji dan telaah bersama dalam menemukan konsepsi resolusi yang tepat (benar). `perang dingin' horizontal antar pemerintah daerah Kab Bima – Kota terkait asset menjadi tawaran politik yang sangat konsumtif saat ini. Budaya local kian hari semakin melenceng kearah mitos yang mistis akibat pergulatan kepentingan yang menggerogoti. Kondisi ini diperparah dengan menguatnya wacana Bima Timur yang terkooptasi oleh policy power instability.

Sehingga perhelatan akbar demokrasi kab Bima enam bulan yang akan datang (April 2010) bukan segala-galanya pertarungan politik demokrasi semata tapi mengerucut pada pertarungan `dimensi identitas' sesungguhnya. Kaum intelektual (cendikia) dituntut untuk menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman politik idiologis dan pendidikan politik yang rasional kepada masyarakat. Para birokrat terdesak oleh profesionalisme etos kerja yang `melayani' bukan lagi `dilayani' seperti sebelum-sebelumnya. Begitu pula para tekhnokrat, baik social engineering (rekonstruksi social) maupun informatica manajemen-work (memenejemen informasi yang bergerak) dalam menunjukan eksistensitas-nya ditengah kehidupan masyarakat Bima yang pasif dan sekaligus progresif saat ini.

Sehingga perlu dilakukan pengerucutan pola kepemimpinan, mode kepemimpinan serta figure pemimpin yang tepat (benar) pada kondisi yang tidak tepat saat ini. Orang yang cerdas akan menjadikan moment ke-tidak tepat-an ini menjadi tantangan dan ruang inspirasi yang luar biasa, karena jarang terjadi. Bagi pengusaha, hal ini sangat riskan dan fatal karena untung ruginya perlu dipikirkan sedetail mungkin, -salah langkah, bangkrut!-. Begitu pula bagi politisi tulen, akan berpikir dua kali untuk mengekslorasi dirinya ditengah masyarakat karena akan menambah beban social bagi dirinya. Sebab ruang ke-tidak tepat-an yang disuguhkan adalah ruang social yang berat untuk dipolitisir malah akan menjadi ruang `bunuh diri' dalam karir politik. Tak terkecuali bagi para Birokrat yang ber'migrasi' ke wilayah politik. Lebih-lebih para aktifis yang mengedepankan materi. Sebab sudah cukup pengalaman Pilkot Bima (2008), Pilkada NTB (2008), Pilcaleg (2009), Pilpres (2009) menjadi `mata rantai kebusukan'.

Begitu pula masyarakat Bima pada umumnya. Pertarungan politik dalam kancah Pilkada Kab Bima 2010 yang akan datang menjadi pertarungan `Identitas' dalam menentukan bentuk `peradaban' kehidupan masyarakat Bima. Bila sekarang yang nampak adalah perang `identitas' akibat konsep bargaining politik kepemimpinan yang tidak bisa dilepas dari falsafah konstruksi social Dana Mbojo, Maja Labo Dahu. Maka, beberapa bulan yang akan datang akan terjadi `perang baliho' yang luar biasa. Selepas itu, pertarungan "harga diri" akan menjadi `warna' tersediri yang rawan akan berbagai konflik. Berarti akan menjadi Pekerjaan baru bagi pemimpin yang akan terpilih nantinya.

Namun itu semua bisa diantisipasi melalui pendidikan politik yang dapat menjelaskan pemahaman politik yang sesungguhnya. Masyarakat Bima butuh pemahaman, bukan pengertian. Masyarakat Bima butuh penjelasan, bukan definisi. Masyarakat Bima butuh yang mencerdaskan, bukan yang meninabobo-kan. Kita tunggu, siapa Pemimpin yang Tepat untuk kondisi yang tidak tepat bagi masyarakat Bima hari ini. Sehingga mampu dikonstruksi menjadi sebenar-benarnya pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat Bima seutuhnya.
Penulis pada kesempatan ini hanya menitip pesan : Mari kita jauhkan diri dari politik `kasimpa', merubah diri dari konsepsi politik `tupa tara' dan tidak terjebak dalam politik `hura hara'. Insyaallah kita akan menjadi masyarakat yang sadar demokrasi menuju masyarakat Bima yang Civil Society.

*Penulis adalah mahasiswa STISIP Mbojo Bima
Aktif berkecimpung dalam kajian Lesehan Komunitas `BABUJU'

Views: 673 | Print

RSS comments

Write Comment
Name:
E-mail
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



MathGuard security question, please solve:
 
JPK         2GP      
  K    E    8     12O
75K   J6L   L9U      
L      8      6   G1T
U18         STM

powered by AkoComment Tweaked

Last Updated ( Monday, 15 February 2010 )
 
Maja Labo Dahu | Nggahi Rawi Pahu