Produk Unggulan
| Madu Alam Bima |
| Sarung Tenun |
| Mutiara Alam |
Pengunjung







![]() | Hari ini | 131 |
![]() | Kemarin | 244 |
![]() | Minggu ini | 997 |
![]() | Bulan ini | 2485 |
![]() | Total | 219686 |
Home
"
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Minal 'Aidin Wal Faidzin
Mohon Ma'af Lahir dan Batin"

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Minal 'Aidin Wal Faidzin
Mohon Ma'af Lahir dan Batin"
| Kumala Bumi Partiga “Cut Nyak Dinnya “ Bima |
|
|
|
| Wednesday, 14 July 2010 | ||||||
|
Oleh : Alan's
Dialah satu-satunya sultan perempaun(Sultanah) dalam sejarah kesultanan
Bima. Wanita ini bernama Kumala. Sebelum diangkat menjadi sultan
bergelar Bumi Partiga yaitu sebuah jabatan di Istana Bima yang memiliki
tugas sebagai pejabat yang mengajarkan Tata Krama yang harus dilakukan
oleh setiap putera dan puteri sultan Bima. Kumala merupakan tokoh
wanita Bima pada abad XVIII yang memiliki komitmen kuat dalam
mempertahankan kedudukan Bima sebagai kesultanan yang dihormati kawan
dan ditakuti lawan.
Kumala memulai debut karir politiknya ketika menjadi istri sultan Abdul Kudus Makassar. Dari pernikahan itu Kumala mempunyai seorang putera yang bernama Usman yang nama makassarnya dikenal dengan “ Amas Madina “ yang kemudian naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1753. Tregedi kematian Abdul Kudus ini semakin mengobarkan semangat Kumala untuk berjuang melawan Belanda di Makassar terutama di Bima. Kebencian Belanda kepada Kumala berawal ketika dia mengangkat puteranya Amas Madina sebagai sultan Makassar dalam usia 6 tahun pada tanggal 21 Desember 1753.
Tidak hanya itu, Kumala juga kembali ke Bima dan diangkat oleh Majelis
Hadat menjadi sultanah. Penobatan ini memang sempat menimbulkan
kontroversi di kalangan majelis adat Dana Mbojo. Sebagian anggota
majelis adat menganggap bahwa dalam islam seoarang perempuan tidak boleh
menjadi pemimpin. Sementara disis lain majelis adat telah mengangkat
adik kandung Kumala yang Abdul Kadim sebagai sultan yang masih berusia 9
tahun dan diwali-kan oleh Jeneli Rasanae Sultan Abdul Ali. Sistim
perwalian memang telah menjadi konvensi dalam kesultanan Bima yang
apabila putera mahkota berusia muda tetap diangkat menjadi sultan namun
dilakukan sistim perwalian sampai sang sultan beranjak dewasa.
Namun pada saat itu, keadaan Bima dan Makasar betul-betul dalam keadaan yang serba sulit. Belanda terus melakukan penekanan di bidang politik dan ekonomi. Bima dan Makassar terus diadu domba melalui status kepemilikan tanah Manggarai yang selalu berubah. Menurut Catatan Naskah BO Sangaji Kai, pada masa Pemerintahan sultan Abdul Kahir I (1640), daerah Manggarai diserahkan kepada Makassar. Kemudian pada masa pemerintahan Abdul Khair Sirajuddin dikembalikan kepada Bima. Tetapi pada masa pemerintahan sultan Hasanuddin Bima(Bukan Sultan Hasanuddin Makassar) Manggarai kembali menjadi milik Makassar, karena menjadi mahar pernikahan puteranya Alauddin (Ayah dari Kumala) dengan Karaeng Tana Sanga Mamuncaragi puteri Sultan Makassar Sirajuddin. Untuk itulah, Kumala tampil di pentas sejarah menjadi jembatan dan pelerai perseteruan antara Bima dengan Makassar atas tanah Manggarai sekaligus menghentikan intrik adu domba Belanda yang mengadu Bima dengan Makassar yang masih serumpun dan sedarah. Disamping itu, Kumala mengetahui bahwa Wali Sultan Abdul Ali termakan hasutan Belanda dan telah menandatangani kontrak dagang dengan Belanda yang sangat merugikan perekenomian Kesultanan Bima. Bima terpaksa mengakui politik monopoli dagang Belanda. Campur tangan Kumala Bumi Partiga terpaksa dilakukan untuk menyelematkan Bima sekaligus Makassar. Berkat usaha itulah hubungan Bima dengan Makassar dapat diperbaiki kembali. Pembangkangan Kumala Bumi Partiga atas semua kesepakatan yang dibuat menimbulkan kemarahan Belanda. Penangkapan terhadap Kumala dan puteranya Amas Madina mulai dilakukan. Pada tanggal 22 Agustus 1766 Amas Madina terpaksa meninggalkan Makassar karena usaha-usaha licik Belanda. Dia menemui ibunya di Bima. Dan pada tahun 1767 Bumi Partiga dan puteranya Amas Madina ditangkap Residen Belanda dalam sebuah undangan musyawarah yang memang telah direncanakan oleh Belanda. Bumi Partiga dituduh bekerja sama dengan Ingriss kemudian ibu dan anak itu dibawa ke Batavia (Jakarta) dan akhirnya dibuang ke Sailon Srilangka pada tahun 1795. Dua pahlawan itu memang telah luput dari pantauan sejarah. Namun perlu diketahui bahwa kiprah dan perjuangan sungguh berharga bagi tanah dan negeri ini. Karena kemerdekaan yang kita raih hingga saat ini merupakan buah dari perjuangan dua anak negeri yang telah menghembuskan nafas terakhirnya di negeri yang jauh yang terletak di sebelah selatan India itu. Perlu penelusuran tentang kuburan Kumala Bumi Partiga dan Amas Madina untuk terus mengungkap benang merah sejarah Bima Dana Mbojo. Views: 282 | Print
powered by AkoComment Tweaked |
||||||
| Last Updated ( Wednesday, 14 July 2010 ) | ||||||
Yang Online
We have 21 guests onlineKomentar Terakhir
| Benang Kusut Generasi Pendidik... |
| benar-benar menarik untuk membaca artikel ini. meskipun saya... |
| 06/05/10 07:13 More... |
| By Edward |
| Pikada dan Harapan |
| search [url=http://www.google.com] search [/url] ... |
| 06/05/10 07:08 More... |
| By addy |

























