Produk Unggulan
| Madu Alam Bima |
| Sarung Tenun |
| Mutiara Alam |
Pengunjung







![]() | Hari ini | 111 |
![]() | Kemarin | 220 |
![]() | Minggu ini | 1001 |
![]() | Bulan ini | 6899 |
![]() | Total | 208823 |
Home
"*****"
| Bima Dalam Memory |
|
|
|
| Wednesday, 02 May 2007 | |||||||
|
Aku terlahir disebuah kampung kecil di pedalaman dana mbojo. kedua orang tuaku cuma petani tumpangan yang tiap musim menyewa tanah orang untuk diolah. bapakku sudah sakit-sakitan sejak aku duduk dikelas 3 sekolah dasar (SD). Dan dalam keadaan yang demikian itu ibu menjadi tulang punggung keluarga disamping bibi yang sesekali membantu kebutuhan keluarga kami. Aku anak pertama dari enam bersaudara dan atomatis harus ikut bertanggung jawab terhadap keluarga kami. Sejak sd kelas tiga aku udah harus kerja membantu ibu dan hampir aku tak pernah merasakan indahnya masa kecil seperti anak-anak lain yang sebaya denganku. Ketika tamat SD, keluargaku benar-benar berantakan, harta, tanah, kerbau, kambing, rumah dan semua barang-barang berharga milik keluarga kami sudah habis berantakan. Aku tidak tahu dengan jelas kenapa orang tuaku sampai menjual semua barang mereka namun satu yang aku ingat, bapakku terjebak dalam kecurangan dan keserakahan para rentenir.
Selama belajar di sekolah menengah pertama (SMP), aku harus mencari dan menjual rumput tiap hari buat ongkos benhur dari kampung ke sekolah, dan keseringannya karena tak ada uang hasil jualan rumput sehingga pulang sekolah aku harus jalan kaki dari Tente sampai ke kampungku yang jaraknya kurang lebih 5 kilo. Tamat sekolah menengah pertama, aku tak berniat melanjutkan ke sekolah menegah atas karena orang tuaku sudah tak mungkin membiayainya. sehingga selesai mengikuti ujian EBTANAS, aku langsung disuruh oleh orang tuaku untuk jadi gembala kerbau milik tetangga. Namun sehari sebelum acara perpisahan siswa disekolah dan bersamaan dengan pengumuman nama siswa yang mendapat rangking tertinggi untuk nilai EBTANAS disekolah, orang tuaku kedatangan dua orang dari pihak sekolah yang membawa undangan agar bapakku hadir pada acara perpisahan tersebut, ternyata aku masuk rangking tiga besar dengan nilai EBTANS tertinggi, hamdulillah keadaan itu memberi keyakinan orang tuaku untuk dengan segala cara mengusahakan agar aku bisa melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Tapi sebelum orang tuaku benar-benar memberi kesempatan padaku untuk disekolahkan ke tingkat atas, aku diberi peringatan bahwa mereka tidak mungkin menyiapkan uang ongkos kendaraan tiap hari jadi sebagai gantinya aku harus tetap mencari dan menjual rumput tiap hari disamping kerjaan utama lainnya yaitu membantu bapak disawah dan malamnya membantu ibu mengurus barang-barang jualan ( ibuku jualan sayur di amba mbojo dan harus berangkat dari kampung ke pasar mbojo tiap shubuh ). Tiga tahun berada di smun tente adalah masa-masa yang penuh kenangan. tiap kali ulangan semester aku hanya bisa ikut ulangan diluar kelas karena ga bisa melunasi uang spp atau bp3 tepat waktu. tapi tidak apa-apa karena belajar tidak hanya harus dalam kelas yang penting ada kesempatan. Pernah sekali waktu ketika sekitar 3 hari menjelang ulangan EBTANAS, karena celanaku robek sehingga tidak berani ikut upacara pagi hari senin, trus karena takut juga sama bapak guru akhirnya aku berdiam diri didalam kelas, tapi moment sebelum upacaranya dimulai ternyata ketahuan sehingga oleh bapak guru aku dipukul pake rotan dan pas kena tanganku, bekas pukulan itu masih bisa kurasakan sakitnya bila memegang pulpen pada saat ulangan EBTANAS. Tamat smu adalah saat yang dinantikan oleh semua pelajar karena dengan itu mereka akan bisa merealisasikan cita-cita mereka yang selanjutnya, tapi bagiku cita-cita yang pernah kumiliki hanya menjadi petani sahaja biar bisa membantu orang tuaku. Seperti biasa habis ulangan ebtanas, akupun ikut-ikutan teman lainnya main corat-coret baju buat kasih tanda tangan sekedar kenang-kenangan akan masa indah di sekolah menengah atas. Keesokan harinya aku harus tundu boru ( mikul timba ) dan bersiap untuk menjadi petani sejati, hehehehehehe..............! Enam bulan setelah tamat smu, sekitar akhir september 1992 adalah puncak musim panas di daerah indonesia timur ( termasuk daerah mbojo ) tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan karena tanahnya kering kerontang sehingga aku mau sahaja ketika diajak oleh tetanggaku untuk membantunya membawa barang-barang pertanian ( bawang ) dari bima ke denpasar. Sepanjang perjalanan itu, pekerjaanku tepatnya adalah menjadi buruh barang-barang milik tetanggaku. Tidur diatas truck terbuka sepanjang malam dalam perjalanan dari bima ke ujung barat pulau sumbawa adalah pengalaman yang mengesankan. Dan yang lebih mengesankan lagi dalam perjalanan itu ketika tengan malam kami sampai di kota klungkung, waktu itu sekitar jam 12 malam, karena masih malam sehingga pemilik barang-barang tersebut harus nginap di hotel, sementara aku sama seorang kernet dan sopir harus jaga barang-barang yang ada di truk. Belum lama kami tidur diatas truk itu, tiba-tiba hujan lebat dan kami bertiga harus pindah tempat tidur ke emperan toko pinggir jalan, pada malam itulah aku merasakan kepalaku diinjak-injak oleh anjing-anjing yang berkeliaran dan ikut berteduh bersama kami, hehehehe......that's life. Views: 20588 | Print
powered by AkoComment Tweaked |
|||||||
| Last Updated ( Tuesday, 12 June 2007 ) | |||||||
Yang Online
We have 57 guests onlineKomentar Terakhir
| Benang Kusut Generasi Pendidik... |
| benar-benar menarik untuk membaca artikel ini. meskipun saya... |
| 06/05/10 07:13 More... |
| By Edward |
| Pikada dan Harapan |
| search [url=http://www.google.com] search [/url] ... |
| 06/05/10 07:08 More... |
| By addy |








Comments (1)















