Isra’ Mi’raj dan Teori Relativitas Albert Einstein (1)

Semua Ummat Islam pasti pernah mendengar peristiwa isra’ mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Perjalanan spiritual Rasullulah itu diabadikan oleh Allah Subahanahu wa Taala dalam Al Quranul Karim dengan nama surat Al Isra’, QS.17 ayat 1. Perjalanan yang terjadi hanya dalam waktu sepanjang malam itu terjadi dalam dua tahap perjalanan. Perjalanan pertama adalah horisontal di mulai dari Makkah Al Muqaramah menuju Masjidil Aqso di Palestine yang berjarak tidak kurang dari 1400 km serta perjalanan tahap kedua adalah perjalanan vertikal dari Masjidil Aqso naik ke Sidratul Muntaha yang jarak vertikalnya tak mampu terukur oleh ilmu moderen sampai kapanpun.
wallahualam bishawab.

Bila kita bagi sama besar waktu siang dan malam dengan asumsi waktu bahwa sehari itu 24 jam, maka waktu malam itu hanya 12 jam saja. Apabila perjalanan itu terjadinya setelah lewat waktu isya dan Rasulullah kembali lagi ke Mekkah sebelum subuh atau sebelum terbit fajar, maka ada pengurangan waktu yang terjadi. Perjalanan itu bisa di asumsikan kurang dari sepuluh(10) jam!

Dalam tulisan ini, saya mengambil asumsi pembulatan bahwa perjalanan Isra’ dan Mi’raj itu adalah total waktunya sepuluh (10) jam saja. Waktu 10 jam ini bila kita konversikan kedalam detik menjadi 36’000 detik.
Perjalanan tahap pertama, yaitu Isra’ yang scara harafiah bermakna berjalan dimalam hari, itu menempuh jarak tidak kurang dari 1400 km., dari Masjidil Haram ke Majidil Aqso itu bila dalam ukuran kecepatan normal kita asumsikan kecepatan rata ratanya 60 km/jam, maka jarak 1400 km itu akan memiliki waktu tempuh sehari semalam alias 23 jam lebih. Apabila perjalanan kita menggunakan pesawat super sonic, yang memiliki kecepatan 5 kali lipat kecepatan suara (kecepatan suara itu 343 m/detik). berati kecepatan pesawat super sonic itu, 1715 m/detik, maka akan menghabiskan waktu 13,605 menit atau kurang dari seperempat jam saja. Bila dihitung pulang perginnya berart waktu yg dibutuhkan kurang lebih setengah jam atau 30 menit. Sisa waktu yang akan digunakan oleh Rasulullah untuk naik ke Sidraatulmuntaha masih ada sembilan jam tigapuluh menit. Pertanyaannya, cukupkah waktu segitu untuk melakukan perjalanan yang maha jauh itu? Jawaban dari pertanyaan ini secara logika umum tentu tidaklah cukup.

Mi’raj, yang secara harafiah dapat bermakna naik menuju ke atas. Perjalanan tahap kedua itu yaitu perjalanan vertikal meruju ke langit yang tinggi. Perjalanan secara vertikal dalam teknologi modern hanya dapat menggunakan roket sebagai pelontar. NASA ( National Aeronautics and Space Administration) dalam mengirim pesawat ulang alik ke angkasa luar menggunakan pelontar roket yang besar untuk dapat mengorbitkan pesawat ulang aliknya ke angkasa luar. Pelontar roket untuk pesawat ulang alik itu hanya mampu melontar sejauh 100 km lebih saja, atau pada lapisan termosfer. Perjalanan mi’raj Rasulullah masih sangat jauuh. Jarak nya sudah tidak diukur lagi dengan angka numerik tapi sudah memakai kecepatan perjalanan cahaya. Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya(dilambangkan dg huruf C) terukur secara presisi adalah C= 299’792’458 m/detik. Oleh Albert Einstein, untuk memudahkan perhitungan, dibulatkan menjadi 300’000’000 m/detik.

Jarak antar planet dengan matahari dalam tatasurya Bima Sakti masih dapat diperkirakan dan dihitung secara matematika oleh para ilmuwan. Pluto sebagai Planet terjauh dari matahari diperkirakan jaraknya 5’906 juta km. Dalam data terbaru masih ada tiga planet yg terjauh. Haumea(6’450 juta km), Makemake(6850 juta km) dan Eris(10’100 juta km) (Sumber: Wikipedia). Sedangkan Tatasurya Bima Sakti adalah salah satu dari Gugusan Bintang yg menyebar dalam bungkusan “bola” jagat raya. Bungkusan “bola” jagat raya yg dinamakan langit. Jarak antara lapisan langit yang dalam dengan yang terluar tak mampu terdifisikan. entah berapa juta tahun perjalanan cahaya.

Data data hitungan teoritis jarak antar planet dalam tatasurya Bimasakti yang bilangannya dalam juta kilometer itu menjukan alangkah jauhnya. Bila kita bayangkan, maka timbullah pertanyaan, seberapa jaukah Sidratul Muntaha itu? Dan waktu tempuh Rasulullah Sallalu Alaihi Wassalam bersama Jibril Alaihissalam dalam hitungan waktu dunia hanya sembilan jam tigapuluh menit. Kecepatan seperti apakah yg mampu menembus jarak yang demikian jauhnya?

Allahu Akbar!!!

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *