Menuju Ke Bima

Sebelum pandemi covid-19 melanda, akses lalu-lintas menuju ke Bima sangat mudah dan bervariasi.

Naik Bis

Bis Malam dari Jakarta, Surabaya, Mataram selalu ada setiap hari. Nama-nama bis yang terkenal antara lain: Langsung Indah, Rasa Sayang, Damai Indah, Surya Kencana, Tiara Indah, Titian Mas. Nama-nama ini adalah bis yang berasal dari Bima. Ada juga bis yang dari Jawa seperti Safari Darma Raya, pernah melayani hingga sampai ke Bima. Alternatif lain adalah transit di Mataram (Lombok). Banyak nama bis terkenal dari Jakarta dan Surabaya melayani trayek sampai Mataram, misalnya: Kramatjati, Pahala Kencana. “Bis Malam” ini berbeda dengan “Bis Reguler” karena umumnya lebih mewah, baik dari penampilan bis, interior, service, dan kecepatannya. Bis Malam lebih cepat dari bis biasa karena tidak menaik-turunkan penumpang di jalan, tetapi point-to-point. Perjalanan di malam hari juga lebih leluasa karena volume kendaraan di jalan lebih sedikit daripada siang hari.

Jika anda ingin naik bis dari Jakarta ke Bima, naiknya di terminal Rawamangun. Kalau dari Surabaya naiknya di terminal Bungurasih. Perjalanan dari Jakarta ke Bima memakan waktu 3 hari 3 malam, atau bisa juga 2 hari 3 malam, sedangkan dari Surabaya memakan waktu 2 hari 2 malam. Bis akan berhenti di tempat-tempat tertentu untuk makan. Di tempat makan ini bisa ke toilet (atau bahkan mandi) dan juga sholat. Di atas bis juga umumnya tersedia toilet.

Harga tiket bis Jakarta – Bima sekitar Rp 850.000, Surabaya – Bima sekitar Rp 570.000, Mataram – Bima sekitar Rp 250.000.

Naik Pesawat

Pesawat terbang dari Jakarta ke Bima ada setiap hari, beberapa kali sehari, baik dari bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng, Banten) maupun dari bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta Timur). Umumnya transit (ganti pesawat) di Bali atau Lombok. Maskapai yang melayani adalah: Garuda Indonesia Airways, Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, dan Nam Air. Dari Jakarta menggunakan pesawat besar (umumnya Boeing 737 atau 747 dan Air Bus). Di Bali atau Lombok ganti pesawat yang lebih kecil, umumnya jenis ATR, namun Nam Air juga menyediakan pesawat Boeing 737 untuk ke Bima.

Jika dari Jakarta (atau Surabaya) kita memiliki banyak pilihan jam terbang mulai dari subuh, namun jam terbang ke Bima (dari Bali atau Lombok) masih terbatas. Pilihannya antara lain: 6:10, 7:00, 9:50, 10:45, 12:55, dan 16:00 (jadwal Wings Air dari Lombok). Saya sendiri lebih suka terbang jam 9an dari Jakarta sehingga tidak terlalu pagi ke bandara (Soetta) dan tidak terlalu lama transit di Lombok, toh akan ‘nyambung’ dengan pesawat siang ke Bima (sampai di Bima sebelum Ashar). Untungnya, kita bisa memesan tiket pesawat langsung dari Jakarta ke Bima, sehingga urusan transit (ganti pesawat dan pindah bagasi) sudah ditangani oleh maskapai.

Perjalanan dari Jakarta ke Lombok umumnya tidak sampai 2 jam (sekitar 1 jam 45 menit), sedangkan dari Lombok ke Bima hanya sekitar 50 menit (40 menit menggunakan Boeing 737 milik Nam Air).

Harga tiket pesawat tentunya bervariasi dan tergantung momen, tetapi umumnya dari Jakarta ke Bima kelas ekonomi sekitar Rp 1.350.000. Kalau Jakarta ke Lombok sekitar Rp 825.000, sedangkan Lombok ke Bima sekitar Rp 635.000.

Kapal Laut

Bima mempunyai pelabuhan laut yang dari dulu biasa disinggahi oleh kapal-kapal besar. Pelabuhan Bima berada di teluk Bima yang airnya cukup tenang. Bima memang sejak dulu menjadi pelabuhan singgah bagi kapal-kapal yang menuju ke Indonesia bagian timur.

Saat ini perjalanan menggunakan kapal laut banyak dilakukan dari Bima ke Makassar atau sebaliknya, dengan jadwal setiap minggu (tidak setiap hari ada). Kapal dari Bima juga ada yang menuju Ampenan (Lombok), lalu ke Bali, Surabaya, dan Jakarta.

Sekadar info, harga tiket Bima – Makassar untuk Kapal Pelni Wilis dan Binaiya Rp 193.000, namun jika dari Makassar ke Bima menjadi Rp 201.500. Untuk kapal Pelni Awu dan Leuser, harga tiket Bima – Benoa (Denpasar, Bali) Rp 178.000, sebaliknya dari Benoa ke Bima menjadi Rp 181.500.

Mobil Pribadi

Bagi anda yang ingin melakukan perjalanan dengan mobil pribadi, perjalanan menuju ke Bima juga tidak sulit. Saya dengan keluarga pernah tiga kali mudik menggunakan mobil pribadi dari Jakarta/Bogor.

Rutenya: Jakarta – Ketapang (Banyuwangi, Jawa Timur), lalu menyeberang menggunakan kapal ferry ke Gilimanuk (Bali). Dari Gilimanuk menuju ke Denpasar terus ke Padang Bai (Bali), lalu menyeberang menggunakan kapal ferry ke Lembar (Lombok). Dari Lembar menuju ke Kayangan (Lombok Timur), lalu menyeberang ke Poto Tano (Sumbawa). Dari Poto Tano menuju ke Bima. Jadi ada tiga kali penyeberangan laut, yaitu Jawa – Bali, Bali – Lombok, dan Lombo – Sumbawa.

Menurut catatan saya, kilometer ban (jarak yang ditempuh di jalan) dari Jakarta ke Bima sekitar 1.687 KM (Jakarta – Ketapang = 1.060 KM; Gilimanuk – Padang Bai = 181 KM; Lembar – Kayangan = 108 KM; Poto Tano – Bima = 342 KM). Saat ini, hampir semua jalan yang dilalui sudah bagus alias beraspal mulus (kecuali sebagian jalan di Jawa Timur setelah Probolinggo ke arah timur). Masalah keamanan di jalan sama sekali tidak ada isu, sementara supply untuk kebutuhan kita di jalan hampir tersedia di sepanjang jalan (SPBU, Convenient Store, Rumah Makan, dll).

Nah, mudah-mudahan perjalanan anda ke Bima menyenangkan, paling tidak: mengesankan 🙂

Salam,
Haer Talib

1 Comment

  1. Saya di rumah aja tidak pulang kampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *