BIMA YANG SEMAKIN MENYUSUT

Kita sering mendengar ungkapan “dunia semakin sempit”. Entah ungkapan itu bermaksud majas (peribahasa) atau faktanya demikian? Entahlah…
Bagi kami yang sudah lama meninggalkan Bima, dan sesekali mudik atau pulang kampung, rasanya ungkapan itu bukan majas, kadang kami merasa itu bagai fakta.

kota bima
Foto by syafrudinmtop.net

Dulu sekitar kota Bima masih banyak persawahan atau kebun luas yang menjadi pembatas antar kampung, saat ini sudah jarang ditemui, bangunan berderet disepanjang jalan sehingga tidak jelas lagi batas-batas alami yang dulu jadi patokan.

Tahun 70-an hingga 80-an masa kami menghabiskan usia kanak-kanak, lokasi antar kampung itu terasa jauh, pegunungan yang jauh yang dulu hanya terlihat bayangan karena kabut sekarang terasa dekat, bahkan orang yang bercocok tanam di atas gunung saat ini mudah terlihat. Entah karena pegunungannya yang saat ini sudah gundul atau karena sebab lain.

Ada cerita teman yang jarang pulang kampung, naik angkutan kota (angkot) dari pasar Bima ke rumahnya di kampung Pane, rasanya baru duduk sebentar di angkot tahu-tahu rumahnya sudah terlewati.

Ada juga saudara yang sebetulnya sering pulang kampung cerita ke saya, perasaan dia, pegunungan yang ada di sekitar kota Bima rasa-rasanya sudah semakin mendekat, menghimpit kota Bima yang nggak seberapa luas.

Sayapun merasakan hal yang sama, padahal kami termasuk sering pulang ke Bima, kadang dalam setahun bisa dua-tiga kali.

Dulu waktu SMA tahun 80-an, kami dari Bima sering bersepeda ke sekolah di daerah Raba, rasanya cukup jauh mengayuh, bahkan seringkali keringat mengucur sesampai di kelas.

BENHUR
BENHUR, kendaraan khas Bima

Apalagi jika pulang sekolah, seringkai kami menggunakan benhur untuk sampai di rumah, dan rasanya jauh serta lama untuk sampai di rumah.
Yang namanya Toloweri, Nungga, Oimbo dan wilayah timur kota Bima lainnya adalah daerah yang sangat jauh, mungkin masa kecil kami hanya sekali-dua kali kami kunjungi, itu juga dengan menumpang truk tetangga yang akan dicuci di daerah sekitar sana yang sungainya cukup deras dan jernih.

Saat ini, kadang-kadang saya diajak bersepeda keliling kota Bima, dari Bima ke Raba, sampai ujung di terminal Kumbe, ke arah kanan lalu menyusuri jalur lingkar luar, melewati Rontu, Sambi Nae, tembus ke Amahami dan ke arah pasar Bima, tidak sampai satu jam kami sudah kembali kerumah.

Dulu pergi berwisata ke Lawata rasanya butuh waktu yang lama untuk dijangkau, sekarang tidak sampai 15 menit bersepeda sudah bisa kita jangkau. Jangan dibilang kalau harus ke Oi Wo’bo di Wawo, rasanya bisa berjam-jam, sekarang tidak sampai setengah jam sudah sampai, padahal dulu juga menggunakan mobil.

Mungkin memori masa kecil kami terpatri oleh pesan orang tua, jangan main jauh-jauh, sebelum magrib sudah harus pulang, aina ndolo (jangan keluyuran), sehingga waktu itu kemana-mana terasa jauh. Dan mungkin karena saat ini jalanan semua serba mulus, dan banyak akses diperlebar sehingga terasa dekat kemana-mana, ditambah lagi kendaraan yang bisa diajak ngebut.

Ya.. kota Bima rasanya semakin menyempit…

Mungkin tulisan ini mewakili generasi kami yang sudah lebih dari 30 tahun meninggalkan Bima, atau mungkin generasi setelahnya juga merasakan hal yang sama?

Wallahu a’lam….
DF, Jkt 020620

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *