Sahe dan Capi (2)

(Klik di sini untuk melihat bagian 1)

Saking kurangnya jumlah sapi di Indonesia, hampir semua Menteri Pertanian (Dirjen Peternakan), siapapun pejabatnya, selalu menjanjikan akan mewujudkan swasembada daging sapi, sehingga akan mengurangi impor ternak. Rencana ini mulai dicanangkan sejak tahun 2005 melalui gerakan yang namanya berubah-ubah, seperti gerbang serba bisa, peningkatan kelahiran sapi, siwab (sapi indukan wajib bunting), dan sekarang terkenal dengan jargon sikomandan (sapi kerbau komoditas andalan). Hasilnya sampai sekarang angka ketergantungan terhadap import ternak hidup atau daging beku tetap aja masih tinggi.

Beberapa catatan penulis, mengapa semua ini terjadi sehingga ternak sapi dan kerbau lebih enak import dibandingkan dengan peningkatan populasi ternak dalam negeri:

1. Harga

Harga ternak sapi atau daging beku import lebih murah dibandingkan dalam negeri. Untuk itu masalah impor ini sangat “seksi” bagi pejabat dan pengusaha terutama urusan “rekomendasi dan izinnya”.

2. Jumlah

Jumlah ternak sapi yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk (ketersediaan tidak seimbang dengan kebutuhan). Jumlah ternak sapi berkisar 12-14jt sedangkan jumlah penduduk sekitar 260jt.

3. Jenis usaha

Peternakan rakyat masih dikembangkan dengan pola “usaha sambilan” dengan kepemilikan 2-3 ekor, sehingga pola pemanfaatan pakan hanya mengandalkan rumput alam atau ternaknya dibiarkan cari makan sendiri.

4. Pakan ternak

Produksi ternak sapi sangat tergantung dari pakan ternak (60-70%). Teknologi pakan ternak cukup pesat perkembangannya namun belun banyak yang bisa diaplikasikan pada ternak rakyat. Dampaknya, kemauan untuk menambah jumlah sapi kurang semangat karena sulitnya mencari pakan ternak.

5. Puskeswan

Pusat kesehatan hewan sebagai lembaga “garda terdepan” dalam membina peternakan belum optimal menjalankan tupoksinya. Hal ini karena tidak semua pemerintah daerah punya komitmen yang sama dalam meningkatkan peran puskeswan.

(Berlanjut)

Arsyad Dou Sape
Kadis Peternakan dan Keswan
Kabupaten Lampung Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *