|
Benang Kusut Generasi Pendidik Dikampus STKIP Bima |
|
|
|
|
Friday, 29 January 2010 |
|
Benang Kusut Generasi
Pendidik Dikampus STKIP Bima
(Tanggapan atas berita:
Ciuman, mahasiswa STKIP Bima diusir)
Oleh : Ikhwanuddin*
Sabtu lalu diberitakan melalui
media cetak harian local Bima, -Bima
Ekspres 31/10/2009. "Telah
terjadi `unjuk' kemesraan remaja yang tak terkendali, tak peduli tempat umum
bahkan pada pusat pendidikan sekalipun. Perbuatan itu dipergoki langsung oleh
pihak SMKN 2 Kota Bima" (Bimeks; 28/10/2009). Menyentak kalangan akademisi serta masyarakat pemerhati
pendidikan Bima. Tak terkecuali akademika STKIP Bima yang nota bene sebagai
cikal bakal pendidik generasi.
Pernyataan yang dilontarkan oleh kepala sekolah SMKN
2 Kota Bima, atas dasar telah menangkap
basah (pergok) aksi ciuman sejumlah mahasiswa STKIP Bima yang kuliah (pinjam
pakai) di ruangan SMKN 2 Kota Bima. Bersama sejumlah guru sekolah setempat,
Kepsek langsung mengusir para pembuat `ulah tabu' itu. Sehingga sejumlah guru pengajar
SMKN 2 Kota Bima terpancing amarahnya. sesaat kemudian kepsek SMKN 2 Kota Bima mendatangi
pihak lembaga STKIP Bima dan menegur. Protes
yang dilayangkan oleh kepksek itu diterima oleh Drs. Jasman M.Pd selaku puket
III yang menangani bidang kemahasiswaan.
| Views: 73 | Print |
|
Last Updated ( Friday, 29 January 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
KESRA GURUKU (Rp 4,6 Miliar), RIWAYATMU KINI |
|
|
|
|
Friday, 29 January 2010 |
|
Oleh : Ikhwanuddin*
"Gelar 'pahlawan tanpa tanda jasa' tentu bukan istilah
yang asing lagi di telinga publik. Peran besar seorang guru dalam mencerdaskan
anak-anak bangsa telah tertanam di benak setiap warga sejak di bangku
pendidikan dasar hingga sekolah lanjutan. Tapi bagaimana nasib mereka
sebenarnya? Faktanya, tak semua guru dapat bekerja tenang dengan tingkat
kesejahteraan yang terbatas. Apalagi dengan hanya mengandalkan status sebagai
pegawai honorer, seperti yang dialami oleh para guru Bantu yang ada di Kota
Bima.
Para
founding fathers negeri ini pun (Tempo Duloe) sebagian besar adalah guru
atau setidaknya mengawali kariernya sebagai guru. Sukarno, Presiden pertama RI,
pernah menjadi guru semasa pengasingannya di Bengkulan (sekarang Bengkulu).
Begitu pula dengan Mohammad Natsir, Perdana Menteri Indonesia
pada masa peralihan, adalah guru dan perintis berdirinya sebuah sekolah di Bandung. Soedirman dan
A.H. Nasution adalah jenderal-jenderal yang pernah pula menjadi guru. Soedirman
adalah guru dan kepala salah satu HIS di Cilacap, sedangkan A.H. Nasution pernah
menjadi guru di Bengkulu dan kepala sekolah di Muara Dua, Palembang Hulu. Tidak
dapat disangkal pula di antara tokoh-tokoh itu masih ada RM Soewardi
Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad
Dahlan, seorang guru yang kiai.
Ironisnya, jika di masa lalu seorang
guru bisa berpenghasilan 40 gulden sebulan, sementara sekarang guru yang
mengharap kenaikan gaji atau tunjangan harus berdemo rame-rame ke gedung DPR,
mogok mengajar, atau lebih parah lagi harus ngojek atau jadi tukang batu di
sela-sela waktu luangnya. Sebuah surat
kabar beberapa waktu lalu bahkan secara jelas memberitakan 70 persen pendidik
swasta bergaji di bawah UMR.
| Views: 69 | Print |
|
Read more...
|
|
|
RAPDBD KAB. BIMA 2010 Tidak Berpihak Pada Rakyat |
|
|
|
|
Wednesday, 27 January 2010 |
|
Lembaga Studi Kajian &
Analisis Anggaran (LaSKAR) `BABUJU';
RAPDBD KAB. BIMA 2010 TIDAK BERPIHAK PADA RAKYAT
RAPBD (Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah) kab Bima untuk tahun Anggaran 2010 yang telah dibahas pada
sidang Paripurna DPRD Kab Bima pada tanggal 16 Desember 2009 sangat tidak
berpihak pada rakyat. Hal ini dapat dilihat dari rencana alokasi Belanja
Langsung dan Belanja Tidak Langsung tahun anggaran 2010.
Belanja daerah terdiri dari dua bagian
seperti tersebutkan diatas, yaitu Belanja Aparatur (Belanja Tidak Langsung) dan
Belanja Pelayanan Publik (Belanja Langsung). Bagian Belanja Aparatur terbagi
kelompok belanja Administrasi Umum, Belanja Operasional & Pemeliharaan dan
Belanja Modal. Sedangkan Belanja Pelayanan Publik, terbagi atas tiga kelompok
seperti Belanja Aparatur, Belanja Bantuan Keuangan dan Bagi Hasil serta Belanja
Tidak Disangka (belanja tak terduga).
Belanja langsung adalah belanja yang
eksistensinya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya suatu program/kegiatan,
atau bukan merupakan sebuah konsekuensi dari adanya suatu program kegiatan. Belanja ini merupakan belanja yang digunakan
secara bersama-sama (Common Cost)
untuk melaksanakan seluruh program/kegiatan unit kerja, serta digunakan secara
periodik (umumnya Bulanan) dalam rangka koordinasi penyelenggaraan kewenangan
pemerintah daerah yang bersifat umum.
Sedangkan Belanja Langsung adalah belanja yang
eksistensinya dipengaruhi secara langsung oleh adanya suatu program/kegiatan. Karakteristik
dari Belanja Langsung adalah input (alokasi
belanja) yang ditetapkan dapat diukur dan diperbandingkan dengan output yang dihasilkan. tentunya hal ini
untuk kesejahteraan rakyat, karena tuntutan Belanja Langsung adalah belanja
yang segala kosekuensinya mempengaruhi langsung untuk kesejahteraan rakyat. (Dokument Hasil Temuan BPK terhadap
pengelolaan keuangan Kab Bima; 2007)
| Views: 88 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 27 January 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Pendidikan Politik Dan Pemilih Pemula |
|
|
|
|
Wednesday, 27 January 2010 |
|
Pendidikan Politik Dan Pemilih Pemula
"Barometer PILKADA Bima 2010"
Oleh : Rangga*
Enam bulan yang
akan datang, Kabupaten Bima bersama Enam Kabupaten dan Kota lainnya di NTB akan bersama-sama
melakukan perhelatan akbar demokrasi local, Pilkada (Pemilihan Langsung Kepala
Daerah). Kab Bima adalah salah satu dari 240 daerah kabupaten dan kota diseluruh Indonesia yang menyelenggarakan
Pilkada pada tahun 2010 ini. Tentunya, keikut sertaan kandidat dalam kancah
pertarungan politik khususnya dalam Pilkada Kab Bima sudah mulai hangat. Wacana
dan isu perubahan mulai merambah ditengah masyarakat. Pertarungan identitas dan
latarbelakang keluarga menambah semangat demokrasi local Bima akhir-akhir ini. Karakter
politik mulai dinampakkan dalam wajah pertarungan demokrasi Bima. Tentunya
sudah lebih baik dari perhelatan politik sebelum-sebelumnya.
Dunia politik
realitasnya akan selalu lekat dalam dimensi kehidupan manusia. Perwujudannya
akan selalu bisa ditemui dalam skala yang besar hingga skala yang terkecil.
Tentu dengan tingkat variasi kajian yang berbeda antara satu dimensi dengan
dimensi lain. Dalam beberapa minggu terakhir ini tentu kita sudah bisa
rasakan begitu kuatnya resonansi
politik yang hadir menuju perhelatan akbar Pilkada Kab Bima 2010.
Partai-partai politik nampak sudah mulai sibuk mempersiapkan diri dengan
berbagai aktivitas yang berorientasi pada penguatan citra dan sosialisasi untuk
menarik massa. Lebih-lebih
langkah-langkah strategis para kandidat yang sudah menyatakan diri untuk tampil
(Deklarasi) pada kancah politik yang akan datang.
Keadaan sosial
ekonomi bangsa yang belum begitu banyak beranjak dari keterpurukannya
nampaknya masih akan menjadi "barang dagangan" yang cukup menarik
untuk ditawarkan. Disamping masih banyaknya potensi tema kedaerahan yang lain
yang masih cukup menarik untuk diperdagangkan kepada khalayak umum. Tak
ketinggalan juga sebentuk kesadaran lokalitas yang semakin meng-kolektif. Tak
terkecuali terhadap wacana kepemudaan yang kian mencuat kuat di internal para
elit politik di Dana Mbojo ini. Cepat
atau lambat pasti akan muncul tarikan-tarikan yang cukup kuat antar partai
politik untuk menggiring generasi muda kedalam wadah politik yang bertujuan
untuk memfasilitasi berbagai kepentingan mereka saat itu maupun dalam akses
jangka panjang. Tentu tujuan-tujuan itu akan lebih banyak bersifat praksis
ketimbang sesuatu yang lebih ideologis, meski tidak semua akan menunjukan
perwajahan yang sama setiap saat.
| Views: 71 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 27 January 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Tuesday, 23 June 2009 |
|
WACANA BIMA TIMUR,
MERETAS PARADIGMA BARU PERUBAHAN BIMA
Oleh : Rangga
Dalam konteks paradigma pembangunan-isme, salah satu issu yang menjadi
fokus perhatian dari para aktifis pembangunan, adalah kesenjangan yang
sangat mencolok antara kelompok pemerintah yang berkuasa - termasuk
mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan - dengan masyarakat
kebanyakan. Baik itu kesenjangan dalam aspek ekonomi, politik, budaya,
maupun hanya sekedar kesenjangan pada akses mendapatkan informasi dan
komunikasi. Mental kekuasaan otoritarian yang dibangun diatas sikap mau
senang sendiri, telah mengebiri hak-hak masyarakat yang sangat
fundamental. Akibatnya, masyarakat seakan berada pada persimpangan
gelap yang tidak jelas arah juntrungannya. Selain itu dengan model
pembangunan rich country but small people, yang harus sering menderita
adalah komunitas masyarakat pinggiran yang sebagian besar bermata
pecaharian sebagai petani, nelayan, buruh, pekebun dan pedagang kecil.
Mereka hidup dalam kesepian karena tidak memiliki teman. Lebih-lebih
kemudian dipolitisir oleh kalangan elit untuk kepentingan yang merugi.
| Views: 1962 | Print |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 44 |